Productive waqf is an Islamic economic instrument with substantial potential to support the Sustainable Development Goals (SDGs), yet its management at the mosque level is generally still run conventionally by part-time administrators without a professional manager, leaving asset potential underutilized. This condition is evident at Al-Falah Mosque, Jambu Aia, Bukittinggi, which has managed seven commercial units and two rental houses for more than three years without a permanent nazhir or digitalized administrative system, making it a relevant case for examining the challenges faced by small-to-medium mosque-based nazhir in Indonesia. This study aims to analyze the management of productive waqf, identify the obstacles encountered, and formulate an optimization model. The study employs a qualitative approach with a case study design; data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, and analyzed using the interactive model of Miles and Huberman. The findings show that productive waqf assets contribute to SDG 1, SDG 4, SDG 8, SDG 11, SDG 16, and SDG 17, although optimization remains constrained by limited nazhir capacity, minimal business diversification, and weak administrative digitalization. This study formulates the VINA Model (Value Creation, Integrated Governance, Nazhir Professionalism, Asset Productivity) as an SDG-based optimization framework for mosque-based productive waqf. ABSTRAK Wakaf produktif merupakan instrumen ekonomi syariah yang berpotensi besar mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), namun pengelolaannya di tingkat masjid umumnya masih dijalankan secara konvensional oleh pengurus paruh waktu tanpa manajer profesional, sehingga potensi aset belum optimal termanfaatkan. Kondisi ini tercermin pada Masjid Al-Falah Jambu Aia Bukittinggi, yang telah mengelola tujuh unit ruko dan dua rumah sewa selama lebih dari tiga tahun namun belum memiliki nazhir tetap maupun sistem administrasi yang terdigitalisasi, sehingga menarik untuk dikaji sebagai representasi tantangan nazhir masjid berskala kecil-menengah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengelolaan wakaf produktif, mengidentifikasi kendala, serta merumuskan model optimalisasinya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus; data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, lalu dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil menunjukkan aset wakaf produktif berkontribusi terhadap SDG 1, SDG 4, SDG 8, SDG 11, SDG 16, dan SDG 17, namun optimalisasinya masih terkendala keterbatasan kapasitas nazhir, minimnya diversifikasi usaha, dan lemahnya digitalisasi administrasi. Penelitian ini merumuskan Model VINA (Value Creation, Integrated Governance, Nazhir Professionalism, Asset Productivity) sebagai kerangka optimalisasi wakaf produktif berbasis SDGs bagi nazhir masjid.