Izmy Khumairoh
Universitas Diponegoro

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Perokok Berjilbab dalam Performativitas Gender dan Pelekatan Stigma pada Mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang Ayyi Imana Auliaamafaza; Suyanto; Izmy Khumairoh
Unnes Civic Education Journal Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ucej.v11i1.23988

Abstract

Perokok berjilbab, keberadaannya mengundang banyak penolakan sosial karena keberadaannya dianggap menyalahi aturan norma. Banyak stigma dan label buruk melekat pada perempuan perokok, apalagi jika seorang perempuan tersebut adalah perempuan yang berjilbab. Beban stigma ganda semakin menguat atas jilbab dan rokok yang ditampilkan secara bersamaan di ruang sosial. Berkaca pada kasus, penelitian ini berusaha mengungkap permasalahan mengenai perokok berjilbab dalam memaknai identitas dirinya, faktor yang melatarbelakangi rokok dikonsumsi dan cara menghadapi pelekatan stigma yang selama ini mereka terima. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan penentuan informan berdasar teknik purposive sampling, dimana syarat informan adalah seorang mahasiswi Universitas Diponegoro, berjilbab dan merokok batang minimal 1 tahun. Dasar pemikiran yang digunakan untuk mengupas permasalahan adalah pemikiran Judith Butler mengenai teori performativitas gender dan stigma dari Erving Goffman. Hasilnya menunjukkan bahwa identitas gender bukanlah identitas yang stabil, sehingga aturan norma yang disesuaikan gendernya, tidak ada dalam konstruksi berpikir perokok berjilbab yang memilih identitas bebas untuk mendekonstruksi gendernya sendiri dengan tidak terikat aturan norma gender umum yang berlaku. Di balik faktor konsumsi, beberapa alasan yang menyertainya adalah sebab gangguan psikologis, penasaran dan pengaruh lingkungan. Namun untuk menghadapi pelekatan stigma, mereka melakukan beberapa cara untuk berdamai yaitu dengan mempertahankan, menyamarkan dan mengakomodasi identitas di hadapan sosial untuk meringankan persoalan hidup yang tidak semua orang dapat memahaminya.