This study aims to describe the profile of students’ learning outcomes in the hydrocarbon topic at class XI MIPA of MA Jabal Nur Kabawo. This research employed a quantitative descriptive design using total sampling technique involving 25 students as research subjects. The instruments consisted of a validated 20-item multiple-choice achievement test, interview guidelines, and documentation. The results showed that students’ learning outcomes were distributed across various categories: 36% were categorized as high, 8% very high, 4% sufficient, while 52% were in the low and very low categories. These findings indicate that most students have not yet mastered hydrocarbon concepts optimally. The main difficulties experienced by students include understanding the structures of alkanes, alkenes, and alkynes, determining IUPAC nomenclature, comprehending isomerism, and understanding benzene structures, which are abstract and require strong visual representation skills. Although the learning process applied a combination of lecture, discussion, question-and-answer, and Problem Based Learning (PBL) methods, lectures remained dominant, resulting in low student engagement. Limited learning media and minimal visualization also contributed to students’ low understanding. Therefore, more interactive learning approaches and the use of visual media are needed to improve students’ learning outcomes in hydrocarbon material. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil hasil belajar siswa kelas XI MIPA MA Jabal Nur Kabawo pada materi hidrokarbon. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan teknik total sampling yang melibatkan 25 siswa sebagai subjek penelitian. Instrumen yang digunakan meliputi tes hasil belajar berupa 20 soal pilihan ganda yang telah divalidasi, pedoman wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil hasil belajar siswa berada pada kategori yang beragam, yaitu 36% siswa berkategori tinggi, 8% sangat tinggi, 4% cukup, serta 52% berada pada kategori rendah dan sangat rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa belum menguasai konsep hidrokarbon secara optimal. Kesulitan utama siswa terletak pada pemahaman struktur alkana, alkena, dan alkuna, penentuan tata nama IUPAC, konsep isomer, serta struktur benzena yang bersifat abstrak dan memerlukan kemampuan representasi visual. Proses pembelajaran telah menggunakan kombinasi metode ceramah, diskusi, tanya jawab, dan Problem Based Learning (PBL), namun metode ceramah masih dominan sehingga keterlibatan siswa relatif rendah. Keterbatasan media pembelajaran dan minimnya visualisasi turut memengaruhi pemahaman siswa. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif serta pemanfaatan media visual untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi hidrokarbon.