Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) Pada Anak Usia Sekolah Dasar Dengan Menggunakan Story Telling: Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) in Elementary School Children Using Storytelling Andi Fatmawati Syamsu; Fitria Masulili; Supriadi; Rzkaningsih; Fajrillah Kolomboy; Nurul Fitrah; Jhodi Wijaya Tapa; Astuti K. Datuamas; Vindi Nadilasari
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) April 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i4.11092

Abstract

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan salah satu upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya sejak usia dini. Namun, pada kenyataannya masih banyak anak usia sekolah dasar yang belum menerapkan PHBS dalam kehidupan sehari-hari, seperti kurangnya kebiasaan mencuci tangan dengan benar, tidak menjaga kebersihan diri, serta kurangnya pemahaman tentang pentingnya hidup sehat. Hal ini dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular di lingkungan sekolah dan rumah. Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan edukatif yang menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak-anak dalam menanamkan nilai-nilai PHBS. Solusi yang diusulkan dalam kegiatan ini adalah pelaksanaan edukasi PHBS kepada siswa sekolah dasar melalui metode storytelling atau mendongeng. Metode ini dipilih karena lebih menarik dan sesuai dengan karakteristik anak usia sekolah dasar, yang cenderung lebih mudah menyerap informasi melalui cerita yang disampaikan secara interaktif dan menyenangkan. Dalam kegiatan ini, tim pengabdi akan menyampaikan materi PHBS yang mencakup pentingnya mencuci tangan, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta pola hidup sehat lainnya, melalui cerita bergambar dan interaksi langsung. Setelah sesi dongeng, kegiatan akan dilanjutkan dengan praktik cuci tangan pakai sabun yang baik dan benar sesuai dengan panduan WHO, dengan melibatkan siswa secara langsung. Target luaran dari kegiatan ini adalah meningkatnya pengetahuan dan kesadaran siswa sekolah dasar terhadap pentingnya PHBS, serta keterampilan siswa dalam melakukan praktik cuci tangan yang benar. Selain itu, luaran tambahan berupa dokumentasi kegiatan (foto dan video), artikel publikasi di media sosial atau media lokal, serta laporan kegiatan akan disusun sebagai bentuk diseminasi hasil pengabdian kepada masyarakat. Rencana kegiatan terdiri dari beberapa tahap, yaitu: (1) koordinasi dengan pihak sekolah dasar yang menjadi mitra kegiatan, (2) penyusunan dan persiapan materi dongeng serta media pendukung seperti poster dan alat peraga, (3) pelaksanaan kegiatan edukasi PHBS melalui metode storytelling dan praktik cuci tangan, serta (4) evaluasi sederhana untuk mengukur pemahaman siswa sebelum dan sesudah kegiatan, dan (5) penyusunan laporan serta publikasi hasil kegiatan. Dengan pendekatan yang menyenangkan dan edukatif, diharapkan kegiatan ini dapat memberikan dampak positif terhadap perilaku hidup bersih dan sehat siswa sejak dini, serta mendukung upaya pencegahan penyakit berbasis masyarakat.
Edukasi Stunting Sebagai Upaya Meningkatkan Pengetahuan Ibu Balita Dalam Pencegahan Stunting di Desa Membuke Kecamatan Poso Pesisir: Stunting Education as an Effort to Increase the Knowledge of Mothers of Toddlers in Preventing Stunting in Membuke Village, Poso Pesisir District Hadriani; Hadina; Ros Arianty; Andi Fatmawati Syamsu; Fajrillah Kolomboy; Nilda Yulita Siregar
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 7 No. 11: November 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v7i11.6617

Abstract

Stunting masih menjadi masalah gizi di Indonesia yang belum teratasi. Stunting akan menimbulkan dampak jangka panjang yaitu terganggunya perkembangan fisik, mental, ­intelektual, dan kognitif. Anak yang stunting sampai usia 5 tahun akan sulit diperbaiki sehingga akan berlanjut hingga dewasa dan dapat meningkatkan risiko keturunan dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Prevalensi balita pendek dan sangat pendek menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 adalah 30,8 %. Hasil tersebut tidak jauh berbeda dengan prevalensi balita stunting di Desa Membuke 40% Lokus Sunting Kabupaten Poso tahun 2023. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan ibu balita tentang stunting dan pencegahannya. Sasaran kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah ibu balita di Desa Membuke Kecamatan Poso Pesisir. Metode pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan tahapan melakukan pre-test sebelum penyuluhan, pemaparan materi tentang stunting dan post-test. Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 06 Februari 2024. Pengabdian masyarakat menggunakan media smard card dan modul tentang stunting. Hasil Pre test tentang pencegahan stunting diperoleh Pengetahuan kurang 16 (53%), Berpengetahuan sedang 11 (37%) dan Berpengetahuan baik 3(1%). Hasil Post tes diperoleh berpengetahuan kurang 4 (13%), berpengetahuan sedang 8 (27%) dan berpengetahuan baik 18 (60%). Dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan pengetahuan ibu balita tentang upaya pencegahan stunting. Disarankan diperlukan kesadaran masyarakat untuk menerapkan pengetahuan terkait upaya pencegahan dan penangan stunting.
Pemberdayaan Kader Posyandu Dalam Stimulasi, Deteksi Dan Intervensi Tumbuh Kembang (Sdidtk) Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Toaya Kabupaten Donggala: Empowerment of Posyandu Cadres in Stimulation, Detection and Intervention of Growth and Development (Sdidtk) in Toddlers in the Working Area of ??Toaya Health Center, Donggala Regency Andi Fatmawati Syamsu; Hastuti Usman; Fajrillah Kolomboy; Rizkaningsih
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Juni 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i6.7912

Abstract

Pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk menjamin setiap warga Negara termasuk anak untuk memperoleh pelayanan kesehatan dasar yang tertuang dalam no 2 tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal dan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 4 tahun 2019 tentang Standar Teknis Pemenuhan Mutu Pelayanan Dasar pada Standar Pelayanan Minimal BidangKesehatan. Pelayanan Kesehatan Balita di dalamnya meliputi pemantauan pertumbuhan dan perkembangan, pemberian imunisasi dasar dan lanjutan. Kesehatan anak merupakan salah satu aspek atau bagian dari kesehatan masyarakat yang di dalamnya termasuk tumbuh kembang anak balita dan keterampilan dalam melakukan deteksi secara dini adanya disfungsional tumbuh kembang anak balita. Bayi di bawah lima tahun atau Balita dianggap sebagai usia yang rentan dan kritis. Hal ini terjadi akibat dalam pemenuhan kebutuhan gizi dan stimulasi kurang baik akan berdampak ke fisik dan mental anak. Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada anak balita akan memiliki pengaruh yang besar pada kualitas anak tersebut saat dewasa. Kader Posyandu adalah anggota masayarakat yang dipilih untuk membantu pelayanan di Posyandu yang berada di dalam desa Toaya, Palu. Para kader ini adalah potensi terbesar sebagai kelompok yang tanggap terhadap skrining masalah tumbuh kembang anak. Untuk dapat menjadi kelompok yang tanggap terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak, para kader perlu diberikan pengetahuan dan keterampilan dalam menjalankan tugasnya. Sasaran dari pengabdian masyarakat ini adalah anggota Kader Posyandu Desa Toaya Palu, yang berjumlah 170 orang. Kegiatan yang akan dilakukan yaitu pemberian edukasi dan pelatihan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) Pada Balita. Luaran yang akan dicapai dalam kegaiatan pengabdian pada masyarakat ini antara lain: publikasi hasil kegiatan berupa Modul dan Video yang di HAKI kan, publikasi pada jurnal terkareditasi.