Niniet Indah Arvitrida
Departemen Teknik Sistem dan Industri, Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Jawa Timur

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

MANAJEMEN RISIKO KETERLAMBATAN PROYEK TRANSMISI 275KV BERBASIS INTEGRASI FMEA, RCA & MONTE CARLO Sylvina Violanda; Niniet Indah Arvitrida
Jurnal Rekayasa Sipil (JRS-Unand) Vol. 22 No. 2 (2026)
Publisher : Civil Engineering Departement, Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jrs.22.2.187-203.2026

Abstract

Proyek pembangunan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kV yang menjadi objek studi merupakan infrastruktur krusial dalam RUPTL 2025–2034 untuk mendukung keandalan sistem interkoneksi serta integrasi Energi Baru Terbarukan (EBT). Proyek ini rentan terhadap risiko keterlambatan, sebagaimana ditunjukkan oleh kegagalan pengadaan awal dan tantangan pembebasan lahan, yang berpotensi menimbulkan dampak finansial signifikan termasuk pembayaran unutilized capacity (Take-or-Pay) atas pembangkit termal terkait. Penelitian ini bertujuan mengelola risiko keterlambatan dan merumuskan strategi mitigasi paling efektif melalui pendekatan mixed-method terintegrasi. Jalur kritis ditentukan dengan Critical Path Method (CPM); identifikasi dan prioritas risiko dilakukan melalui Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) semi-kuantitatif; akar penyebab ditelusuri dengan Root Cause Analysis (Fishbone Diagram dan 5-Whys); serta Simulasi Monte Carlo yang parameter ketidakpastiannya diturunkan dari skor FMEA, diterapkan untuk mengukur sebaran durasi, probabilitas pencapaian Commercial Operation Date (COD), dan dampak finansial. Hasil menunjukkan jalur kritis terdiri atas 16 aktivitas dengan Total Float nol; tujuh aktivitas berkategori risiko Sangat Tinggi (RPN tertinggi 80); median durasi penyelesaian 34,8 bulan (COD September 2028) dengan probabilitas memenuhi target RUPTL 0,0%; serta dampak finansial Take-or-Pay Rp 417–646 miliar per tahun dan cost-of-delay Rp 46–54 miliar per bulan. Penelitian memberikan kontribusi metodologis berupa template manajemen risiko keterlambatan yang dapat direplikasi untuk proyek transmisi sejenis.