Humbang Purba
PPPTMGB "LEMIGAS"

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KAJIAN TEKTONIK DAN SEDIMENTASI DI CEKUNGAN SUMATERA UTARA DAN IMPLIKASINYA UNTUK POTENSI GAS SERPIH (Tectonic and Sedimentation Evaluation in North Sumatera and Its Implication to Shale Gas Potential) Ricky Andrian Tampubolon; Shidqi Anugrah Diria; Humbang Purba; Argya Basundara; Junita Trivianty
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 51 No 2 (2017)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.51.2.22

Abstract

Penelitian ini memberikan perspektif baru mengenai mekanisme pembentukan Cekungan Sumatera Utara, karena penelitian sebelumnya masih melihat Sesar Malaka sebagai sesar yang berperan dalam pembentukannya. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah peta gaya berat, peta konfi gurasi batuan dasar, data seismik dan data sumuran. Cekungan Sumatera Utara dapat dibagi menjadi dua (2) sub-cekungan yaitu: Sub-Cekungan Bagian Utara dan Sub-Cekungan Bagian Selatan. Sub-Cekungan Bagian Utara, dalam, diendapkan batuan sedimen serpih Paleogentebal, mengalami percepatan gravitasi rendah serta nilai alir bahang kecil seperti di Rendahan Arun. Sebaliknya, di Sub-Cekungan Bagian Selatan, dangkal, batuan serpih Paleogen relatif tipis tetapi mengalami percepatan gravitasi tinggi serta nilai alir bahangnya tinggi, sehingga berpotensi sebagai batuan induk gas serpih. Sub-Cekungan Bagian Selatan (Dalaman Tamiang) mengalami tektonik intensif. Penelitian mengenai proses sedimentasi, tektonik, dan analisis geokimia dapat menentukan konsep eksplorasi potensi gas serpih di Cekungan Sumatera Utara. This research gives a new perspective in basin formation of North Sumatra because the previous research still regards the Mallaca Fault play role in its basin forming. The data used in this research is gravity map, basement configuration map, seismic, and wells. The North Sumatra Basin can be divided into teo (2) sub-basins, which is: The Northern Sub-Basin and The Southern Sub-Basin. The Northern Sub-Basin is deep, have a thick Paleogene sediment, have a low acceleration gravity, and lower heatflow, like in Arun Deep. However, the Southern Sub- Basin is shallower, have a thinner Paleogene sediment, higher gravity acceleration, and higher heatflow, which make the area is potential to be source rock for shale gas. The Southern Sub-Basin (Tamiang Deep have intense tectonic phase. The research about sedimentation, tectonic, and geochemistry can make the exploration concept for shale gas in North Sumatra Basin.
PEMISAHAN LITOLOGI DAN FLUIDA DENGAN MENGGUNAKAN POISSON IMPEDANCE (Distinguishing Lithology and Fluid Using Poisson Impedance) Humbang Purba; Bagus D Prasetyo; Ricky Andrian Tampubolon; Pradityo Riyadi; Shidqi Anugrah Diria; Argya H Basundara
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 51 No 3 (2017)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.51.3.25

Abstract

Parameter Acoustic Impedance (AI) dan Shear Impedance (SI) umumnya digunakan untuk sensitivitas pemisahan litologi dan fluida, distribusi properti petrofisika, pemodelan fasies, dan estimasi reserve potensi migas. Namun parameter tersebut tidak sensitif untuk pemisahan litologi dan fluida pada Formasi Plover di lapangan-X cekungan Bonaparte. Analisis lanjut parameter AI dan SI dilakukan dengan merotasikan kedua sumbu parameter tersebut ke dalam sumbu parameter yang baru sehingga menghasilkan parameter Poisson Impedance (PI) yang memenuhi persamaan PI = AI - c*SI. Pemisahan litologi dan fl uida dapat ditentukan dengan pemilihan nilai c yang berbeda melalui analisis TCCA (Target Correlation Coefficient Analysis). Nilai c untuk indeks litologi (LI) diperoleh dengan melakukan korelasi antara PI dan rekaman Gamma Ray (GR) dan untuk indeks fluida (FI) melalui korelasi antara PI dan Saturasi Air (Sw). Pada penelitian ini, terdapat dua zona target, yaitu zona A (3760 - 3920 meter) dan zona B (3920 - 4010 meter). Batas pemisahan litologi antara batupasir dan batu serpih menggunakan koefisien c = 1.245 untuk zona-A dan c = 2.3433 untuk zona-B sedangkan indikasi fluida menggunakan koefisien c = 2.740 untuk zona-A dan c = 3.2607 untuk zona-B. Acoustic Impedance (AI) dan Shear Impedance (SI) parameters are frequently used for petrophysical properties distribution, facies modeling, and reserve calculation. However, these are less sensitive to distinguish lithology and fluid at the Plover formation of X-field, Bonaparte basin. More advanced approximation was conducted by rotating AI and SI axis paremeter to obtain Poisson Impedance (PI) satisfying an equation: PI = AI - c*SI. Different c constant was simulated by using Target Correlation Coefficient Analysis (TCCA) then each PI correlates to Gamma Ray and the best correlation indexed by Lithology Index while for PI versus Water Saturation indexed by Fluid Index. The upper target (zone A) leveled at interval 3760 - 3920 metre while the lower (zone B) at interval 3920 - 4010 metre. In the zone A, sandstone and shale lithology are separated on coefficient c = 1.245 and c = 2.3422 in the zone B meanwhile fluid is separated on c = 2.7400 and c = 3.2607 in the zona A and B, respectively.
IDENTIFIKASI RESERVOIR DAN HIDROKARBON DENGAN MENGGUNAKAN METODE SYNCHROSQUEEZING TRANSFORM (Reservoir and Hydrocarbon Identification Using Synchrosqueezing Transform) Shidqi Anugrah Diria; Humbang Purba; Ricky Andrian Tampubolon
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 51 No 3 (2017)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.51.3.29

Abstract

Karakterisasi reservoir yang menggunakan metode berbasis frekuensi (metode dekomposisi spektral) memberikan informasi tentang kemenerusan reservoir dan hidrokarbon lebih akurat apabila kemampuan resolusi frekuensinya juga baik. Metode dekomposisi spektral Continuous Wavelet Transform (CWT) yang berbasis Transformasi Fourier menggunakan skala dan translasi window wavelet untuk mengkuantifi kasi resolusi frekuensinya. Metode tersebut seringkali digunakan dalam indikator zona reservoir dan hidrokarbon namun masih memiliki resolusi frekuensi yang kurang akurat sehingga frekuensi zona reservoirnya pun overlapping dengan zona non-reservoir. Penelitian ini ilakukan untuk meningkatkan resolusi frekuensinya sehingga informasi tentang reservoir dan indikasi hidrokarbon lebih valid. Synchrosqueezing Transform (SST) merupakan metode dekomposisi spektral yang lebih kompleks karena mengkolaborasi metode Empirical Mode Decomposition (EMD) dan Transformasi Hilbert dengan metode CWT. Sinyal didekomposisi dengan metode EMD, lalu diproses dengan penskalaan dan tranlasi window wavelet menggunakan metode CWT, kemudian dilakukan ekstrak frekuensi sesaatnya menggunakan Transfromasi Hilbert sehingga sensitivitasnya meningkat. Metode SST dan CWT diaplikasikan pada data sintetik untuk mengetahui akurasi pemisahan frekuensi. Selanjutnya, metode-metode ini diaplikasikan pada data seismik dan data sumur SNR-1 dan SRI-1 sebagai kalibrator. Hasilnya menunjukkan bahwa metode SST mampu mengidentifikasi frekuensi reservoar dan hidrokarbon dengan baik dibandingkan dengan metode CWT. Respon kemenerusan reservoir dan potensi hidrokarbon ditunjukkan dengan amplitudo tinggi pada frekuensi 20 Hz. A frequency-based method (sepctral decomposition) can provide accurate information dealing with reservoir and hydrocarbon indication if its frequency resolution is accurate. Spectral decomposition method such as Continuous Wavelet Transform (CWT) built on Fourier Transform which uses scale and translation of wavelet to quantify its frequency resolution. However, it occur ambiguous frequency resolution so that tunning frequency of reservoir and non-reservoir are overlapping. This study was conducted to increase the frequency resolution in order to avoid invalid information of reservoir and hydrocarbon indication. Synchrosqueezing Transform (SST) is a more complex algorithm than CWT because it collaborates the Empirical Mode Decomposition (EMD) and Hilbert Transform with CWT method. Initiated by signal decomposition process then continued to scaling and translation of wavelet window in CWT phase. The final stage is to extract the instantaneous frequency using Hilbert Transform in order to obtain more sensitive frequency resolution. SST and CWT method were implemented to synthetic data to know each of frequency separation accuracy. Furthermore, these methods were also applied to seismic data and well data SNR-1 and SRI-1 as calibrator. The result showed that the SST method was robust to identify the reservoir and hydrocarbon indication better than CWT method. Reservoir and hydrocarbon response are detected on high amplitude which is tunned at the frequency 20 Hz.