Catur Yuliani Respatiningsih
PPPTMGB "LEMIGAS"

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH PENGGUNAAN ASAM AZELAT SEBAGAI COMPLEXING AGENT DALAM GEMUK LUMAS NABATI M Hanifuddin; Milda Fibria; Catur Yuliani Respatiningsih; Rona Malam Karina
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 52 No 1 (2018)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.52.1.93

Abstract

Litium hidroksida (LiOH) sangat umum digunakan sebagai bahan thickener dalam proses pembuatan gemuk lumas dalam bentuk sabun. Gemuk sabun litium merupakan gemuk sabun sederhana yang banyak digunakan untuk aplikasi tujuan umum (general purpose) yang suhu operasinya tidak melebihi 130°C, dengan nilai dropping point biasanya 180°C. Performa gemuk lumas dapat ditingkatkan dengan cara menambahkan bahan pengompleks ke dalam formulasinya. Beberapa jenis bahan pengompleks yang ditambahkan dalam gemuk lumas diantaranya asam azelat, asam adipat, asam benzoat dan asam salisilat. Dalam penelitian ini, digunakan penambahan asam azelat secara bertahap mulai dari 12,5 gr; 15gr; 17,5gr; 20 gr sebagai substitusi sebagian asam 12-HSA, dengan tujuan untuk mendapatkan gemuk lumas sabun litium kompleks. Penelitian menunjukkan gemuk lumas diperoleh yang diperoleh secara optimum memiliki nilai dropping point sebesar 251OC dan nilai konsistensi sebesar 286 atau masuk dalam kategori NLGI 2. Pada pengujian unjuk kerja didapat nilai scar diameter sebesar 0,37 mm, sehingga dapat disimpulkan bahwa asam azelat bekerja secara sinergis dengan sabun litium sebagai bahan pengompleks dalam gemuk lumas nabati.
Karakteristik Fisika Kimia Formulasi Minyak Lumas Trafo Inhibited Shinta Sari Hastuningtyas; Catur Yuliani Respatiningsih
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 49 No 1 (2015)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.49.1.233

Abstract

Transformator pada pembangkit listrik membutuhkan bahan dielektrik sebagai bahan isolasi untuk memisahkan dua atau lebih penghantar listrik yang bertegangan. Sehingga antar penghantar tersebut tidak terjadi hubung singkat yang dapat menyebabkan lompatan api atau percikan. Salah satu bahan dielektrik yang digunakan adalah minyak lumas transformator. Minyak di Indonesia masih impor, untuk itu perlu dilakukan formulasi minyak lumas trafo dengan berbagai komposisi. Kapasitas terpasang dan jumlah trafo di Indonesia cukup besar dan pemenuhan minyak trafo masih dengan cara impor. Dilakukan formulasi minyak trafo dengan berbagai komposisi untuk menghasilkan enam belas formula, kemudian diambil tiga formula yang mendekati sifat fisika kimia minyak trafo di pasaran. Dari tiga formula itu menunjukkan bahwa Formula 6 memiliki hasil uji terbaik dengan hasil uji viskositas kinematik pada temperatur 40oC 11,6 cSt, titik nyala 180oC, angka asam total 0,04 mgKOH/gr, dielectric breakdown voltage (DBV) 39 kV, dan interfacial tension (IFT) 41 mN/m. Sehingga formula ini memenuhi spesifikasi SNI 7069.18 : 2008 dan IEC 60296-2003. Transformer of a power plant requires dielectric materials as insulation to separate two or more electrically conductive voltage substances. So that substance conductivity will not occur a short circuit that could cause fire or spark jumps. One of the dielectric material used is a lubricating oil transformer (transformer oil). Installed capacity and number of transformers in Indonesia is quite large and the fulfillment of transformer oil in Indonesia is still imported. Therefore it is necessary to formulate lubricating oil transformer with various compositions to produce at least sixteen formulas, and then it will be chosen three samples with the closest physicochemical properties of transformer oil in the market. Of the three formulas show that Formula 6 has the best test results according test results at temperatures of 40°C kinematic viscosity is 11.6 cSt, flash point is 180oC, the total acid number (TAN) is 0.04 mgKOH/g, the dielectric breakdown voltage (DBV) is 39 kV, and the interfacial tension (IFT) is 41 mN/m. And this formula meets the specifications of ISO 7069.18: 2008 and IEC 60296-2003.