Studi ini meneliti bagaimana Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden Indonesia, direpresentasikan dan diberi label dalam 1.500 komentar YouTube pada video “Generasi Muda, Bonus Demografi dan Masa Depan Indonesia” dari akun resmi Wakil Presiden. Dengan menggunakan pendekatan metode campuran, penelitian ini menggabungkan Analisis Wacana Berbasis Korpus dengan AntConc, Analisis Wacana Kritis (CDA) Norman Fairclough, dan Teori Pelabelan Howard Becker. Analisis mengidentifikasi 22 kata kunci, yang mengungkapkan tema dominan anti-nepotisme, meritokrasi, dan skeptisisme terhadap pembangunan citra politik. Temuan menunjukkan bahwa para pemberi komentar menggambarkan Gibran sebagai sosok yang tidak kompeten secara kontekstual, disebut sebagai “orang yang terbelakang secara situasional,” menyoroti ketidakdewasaan yang dirasakan, ketergantungan pada hak istimewa keluarga, dan kurangnya otentisitas. Strategi linguistik, termasuk sarkasme, istilah peyoratif, dan referensi intertekstual, membangun narasi kritis, sementara genre digital dan dinamika platform memperkuat resistensi publik. Analisis sosio-kultural menggarisbawahi kontestasi hegemonik terhadap struktur patrimonial di Indonesia pasca-pemilu 2024, yang mencerminkan ketegangan sosial yang lebih luas. Studi ini menyimpulkan bahwa komentar YouTube secara signifikan membentuk narasi politik, yang berdampak pada legitimasi Gibran. Penelitian ini memperkaya wawasan tentang wacana politik digital dan merekomendasikan agar studi masa depan mengeksplorasi dinamika lintas platform dan elemen visual untuk memperdalam pemahaman.