Syahrul Hadiyatullah
Yayasan Nawadya Cita Nusantara, Jawa Timur, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Candi Songgoriti dalam Konstruksi Sosial: Perubahan dari Hindu ke Islam-Jawa: Songgoriti Temple in Social Construction: The Change from Hinduism to Javanese Islam Syahrul Hadiyatullah; Aditya Fajar Utama; Mayedha Adifirsta
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i1.102922

Abstract

Candi Songgoriti di Kota Batu, Jawa Timur, merupakan situs warisan budaya yang merekam jejak peradaban Hindu masa Mpu Sindok sekaligus menampilkan dinamika pertemuan agama dan budaya di Jawa. Di tengah arus modernisasi, situs ini tetap menjadi ruang ritual yang hidup, namun mengalami pergeseran makna yang menarik untuk dikaji karena menunjukkan negosiasi identitas keagamaan dan sejarah dalam kehidupan masyarakat kontemporer. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses transformasi fungsi dan makna Candi Songgoriti dari kuil pemujaan Hindu menjadi ruang spiritual Islam-Jawa. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi melalui wawancara mendalam terhadap juru kunci dan sesepuh lokal. Analisis data dilakukan dengan teori konstruksi sosial Peter L. Berger yang memandang perubahan makna sebagai hasil eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur fisik Candi Songgoriti tetap mempertahankan karakter Hindu, namun maknanya direkontekstualisasi sesuai kebutuhan spiritual masyarakat. Ritual Suroan yang memadukan doa Islam dan budaya Jawa, serta ziarah Tirtha Yatra yang masih dijalankan umat Hindu, memperlihatkan koeksistensi nilai Islam dan Hindu dalam satu ruang kultural. Narasi lokal yang menghubungkan Mpu Supo dengan Sunan Kalijaga menjadi contoh objektivasi makna baru, sementara praktik penghormatan leluhur mencerminkan internalisasi nilai lintas keyakinan. Transformasi ini menegaskan bahwa pelestarian situs sejarah tidak hanya berupa konservasi fisik, tetapi juga proses sosial yang terus-menerus menegosiasikan warisan masa lalu dengan identitas keagamaan masa kini. Temuan ini menekankan pentingnya pelestarian kritis dan dialogis agar makna sejarah tetap terjaga tanpa mengabaikan realitas kultural masyarakat yang terus berkembang