Fitriati Zaida
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Kontras Simbolisme Anjing dalam Novel Cantik Itu Luka dan Makna Kultural Anjing dalam Budaya Jawa: The Contrast of Dog Symbolism in the Novel "Beauty is a Wound" and the Cultural Meaning of Dogs in Javanese Culture Titik Setiowati; Dyah Ayu Prasetyaningrum; Fitriati Zaida
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i1.104769

Abstract

Penelitian ini menganalisis kontradiksi antara penggunaan simbolisme anjing dalam karya tulis “Cantik Itu Luka” oleh Eka Kurniawan dan makna kultural anjing dalam budaya Jawa. Narasi dalam novel menunjukkan penggunaan simbolisme anjing untuk ungkapan negatif dalam masyarakat. Dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes, penelitian ini menyajikan representasi simbolisme anjing dalam novel sebagai personifikasi nafsu dan degradasi moral manusia, serta kontradiksi makna anjing yang dipahami memiliki nilai spiritual dan penjagaan dalam budaya Jawa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis semiotik Barthes melalui pembacaan tekstual terhadap tanda-tanda dalam teks sastra untuk mengungkap makna denotatif dan konotatif simbolisme anjing, yang kemudian diinterpretasikan dalam konteks budaya Jawa. Berdasarkan data yang diperoleh, hasil analisis merepresentasikan nafsu dan degradasi moral yang menjadi kritik langsung terhadap kebiasaan masyarakat yang cenderung mengikat kata anjing dengan hal-hal negatif dalam praktik bahasa sehari-hari. Novel menggunakan kontras tersebut untuk menyingkap krisis budaya yang terjadi dalam masyarakat. Signifikansi penelitian ini terletak pada upaya membongkar bagaimana karya sastra menggunakan simbol yang akrab untuk merefleksikan krisis nilai budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lunturnya moralitas dan kerusakan tatanan sosial berakar pada kegagalan masyarakat dalam melestarikan nilai tradisi dan mengabaikan kearifan budaya.