Kajian ini berangkat dari kegelisahan yang cukup spesifik: kebijakan pendidikan inklusif berkembang, tetapi sikap pendidik tidak selalu bergerak searah. Dalam konteks itu, paradigma Qur’ani khususnya melalui pembacaan Surat ‘Abasa digunakan bukan sekadar sebagai rujukan normatif, melainkan sebagai lensa untuk memahami perubahan sikap guru difabel di SLB Banjarnegara. Pendekatan fenomenologi dipilih karena penelitian ini tidak mengejar generalisasi cepat, melainkan ingin menelusuri pengalaman yang benar-benar dialami (lived experience). Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan dokumentasi, dengan kombinasi purposive serta snowball sampling agar narasi yang muncul tidak tunggal. Hasil penelitian menunjukkan lima pola yang saling berkelindan. Inklusivitas dimaknai sebagai pengakuan atas perbedaan, bukan sekadar penggabungan ruang belajar. Sikap pendidik mengalami pergeseran yang tidak instan dari ragu menuju empati yang lebih reflektif. Nilai-nilai dalam Surat ‘Abasa berfungsi sebagai pijakan etik yang memengaruhi cara guru memandang difabel. Pengalaman hidup guru difabel sendiri ternyata berperan besar dalam membentuk kepekaan sosial. Namun, di saat yang sama, keterbatasan fasilitas dan lemahnya dukungan sistem masih menjadi penghambat yang nyata. Temuan ini mengarah pada satu hal yang agak jarang ditegaskan: pembentukan sikap inklusif tidak cukup dijelaskan oleh aspek pedagogis saja. Ada dimensi spiritual dan pengalaman personal yang bekerja diam-diam tetapi menentukan. Karena itu, penguatan pendidikan inklusif sebaiknya tidak hanya berfokus pada teknik mengajar, melainkan juga pada proses internalisasi nilai yang lebih reflektif.