Eva Kumalasari
UIN Sayyid Ali Rahmatullah, Tulungagung, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Salahuddin al-Idlibī’s methodology of hadith matn criticism: An analysis of the hadith of the fly in a drink Chamelia Bunga Nurani; Eva Kumalasari; Nur Efendi
Mishkat: Journal of Theology and Civilization Vol. 1 No. 1 (2026): Mishkat: Journal of Theology and Civilization
Publisher : PT Perfidia Akademia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Debates surrounding the authenticity of hadith remain prominent in contemporary scholarship, particularly regarding traditions perceived to conflict with reason and modern science. This study examines Salahuddin al-Idlibī’s methodology of matn criticism by applying its four evaluative criteria to the hadith of the fly narrated in Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Employing a qualitative library research approach, data were collected through documentation and analyzed using content analysis and descriptive-analytical methods. The analysis is based on four criteria: conformity with the Qur'an, consistency with more authentic hadiths, compatibility with reason, historical facts and scientific knowledge, and the linguistic characteristics of the Prophet's sayings. The findings show that the hadith fulfills all four criteria. Its content is consistent with the Qur'an and authentic hadiths, is rationally understandable in light of historical context and scientific findings, and reflects the Prophet's linguistic style. Therefore, al-Idlibī’s methodology is both conceptually sound and practically applicable for evaluating debated hadiths. Abstrak Perdebatan mengenai autentisitas hadis masih menjadi perhatian dalam kajian kontemporer, terutama terhadap hadis yang dianggap bertentangan dengan akal dan ilmu pengetahuan modern. Penelitian ini bertujuan mengkaji metodologi kritik matan Salahuddin al-Idlibī dengan menerapkan empat kriterianya pada hadis lalat dalam minuman yang diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Data dikumpulkan melalui dokumentasi dan dianalisis menggunakan analisis isi serta metode deskriptif-analitis. Analisis didasarkan pada empat kriteria, yaitu kesesuaian dengan Al-Qur'an, keselarasan dengan hadis yang lebih sahih, kesesuaian dengan akal, fakta sejarah, dan ilmu pengetahuan, serta karakteristik kebahasaan sabda Nabi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis tersebut memenuhi keempat kriteria. Dengan demikian, metodologi kritik matan Salahuddin al-Idlibī memiliki landasan konseptual yang kuat sekaligus relevan diterapkan dalam mengkaji hadis-hadis yang masih diperdebatkan pada era kontemporer.
The effectiveness of the tahriri examination as an instrument for measuring students' understanding at Al-Hikmah Tulungagung Islamic Boarding School Eva Kumalasari; Nayla Wirdatun Ni’ammah; Chusnul Chotimah
Eduvista: Journal of Education and Innovation Vol. 1 No. 1 (2026): Eduvista: Journal of Education and Innovation
Publisher : Eduvista: Journal of Education and Innovation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The effectiveness of the tahriri examination as an assessment instrument in Islamic boarding schools remains debated because empirical evidence linking it to students' level of understanding is still limited. This study aimed to describe students' level of understanding, evaluate the effectiveness of the tahriri examination, and analyze the relationship between the tahriri examination and students' level of understanding at Al-Hikmah Tulungagung Islamic Boarding School for University Students. A quantitative descriptive-correlational design was employed involving 57 santri selected through purposive sampling, with data analyzed using descriptive statistics and Spearman's rank correlation. The findings revealed that the instrument met the validity requirements (9 of 10 items were valid) and demonstrated high reliability (Cronbach's Alpha = 0.866). The effectiveness of the tahriri examination reached 87.6%, students' level of understanding reached 86.9%, and a strong positive and statistically significant relationship was identified between the two variables (r = 0.757, p < 0.001). This study provides empirical evidence supporting the effectiveness of the tahriri examination and proposes a conceptual framework for improving learning assessment in Islamic boarding schools. Abstrak Ketepatan ujian tahriri sebagai instrumen evaluasi pembelajaran di pesantren masih diperdebatkan karena belum banyak penelitian yang membuktikan hubungannya dengan tingkat pemahaman santri secara empiris. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tingkat pemahaman santri, mengukur efektivitas ujian tahriri, serta menganalisis hubungan antara ujian tahriri dan tingkat pemahaman santri di Pesantren Mahasiswa Al-Hikmah Tulungagung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif-korelasional terhadap 57 santri yang dipilih melalui purposive sampling, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen memenuhi kriteria validitas (9 dari 10 butir valid) dan reliabilitas tinggi (Cronbach's Alpha = 0,866), tingkat efektivitas ujian tahriri mencapai 87,6%, tingkat pemahaman santri sebesar 86,9%, serta terdapat hubungan positif yang kuat dan signifikan antara kedua variabel (r = 0,757; p < 0,001). Penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa ujian tahriri merupakan instrumen evaluasi yang efektif serta menawarkan kerangka konseptual sebagai acuan pengembangan evaluasi pembelajaran di pesantren.
Toward the dehumanization of Islamic Education teachers: A conceptual synthesis of workload complexity in the Merdeka Curriculum Eva Kumalasari; Nayla Wirdatun Ni’ammah; Imam Junaris
Societa: Journal of Society and Change Vol. 1 No. 1 (2026): Societa: Journal of Society and Change
Publisher : PT Bina Perfidia Akademia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67964/e9ae4v58

Abstract

The implementation of the Merdeka Curriculum has increased teachers' workload through expanding administrative demands, yet previous studies have examined teacher workload, role strain, and dehumanization separately, leaving the underlying mechanism, particularly for Islamic Education (PAI) teachers, insufficiently explained. This study aims to analyze the mechanism of PAI teachers' dehumanization by examining the relationship between educational regulations, the implementation of the Merdeka Curriculum, the professional characteristics of PAI teachers, and the resulting professional consequences. This study employed a library research approach using a conceptual synthesis method based on educational regulations, policy documents, and relevant scholarly literature. The findings reveal that the dehumanization of PAI teachers is not merely a consequence of increasing administrative responsibilities but results from the interaction among expanding regulations, transformed professional responsibilities, and the multidimensional pedagogical, moral, and spiritual roles of PAI teachers. This study contributes a conceptual model explaining the mechanism of teacher dehumanization as a foundation for developing a more humanistic implementation of the Merdeka Curriculum. Abstrak Implementasi Kurikulum Merdeka meningkatkan kompleksitas beban kerja guru melalui perluasan tuntutan administratif, namun kajian sebelumnya masih membahas beban kerja, konflik peran, dan dehumanisasi guru secara terpisah sehingga mekanisme hubungan antarfenomena tersebut, khususnya pada guru Pendidikan Agama Islam (PAI), belum dijelaskan secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan menganalisis mekanisme dehumanisasi guru PAI melalui hubungan antara regulasi pendidikan, implementasi Kurikulum Merdeka, karakteristik profesi guru, dan konsekuensi profesional yang ditimbulkannya. Penelitian menggunakan pendekatan library research dengan metode sintesis konseptual melalui analisis regulasi, dokumen kebijakan, dan literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dehumanisasi guru PAI bukan semata-mata disebabkan oleh meningkatnya administrasi pembelajaran, tetapi merupakan konsekuensi dari interaksi antara perluasan regulasi, transformasi pekerjaan guru, dan kompleksitas peran pedagogis, moral, serta spiritual. Penelitian ini berkontribusi dengan menawarkan model konseptual yang menjelaskan mekanisme dehumanisasi guru PAI sebagai dasar evaluasi implementasi Kurikulum Merdeka yang lebih humanis.