Perkembangan teknologi digital telah mendorong transformasi sistem pembayaran di Indonesia, khususnya melalui penerapan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang terintegrasi dalam layanan mobile banking. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku nasabah milenial dalam memanfaatkan fitur QRIS mobile banking untuk transaksi harian. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif eksplanatori terhadap 100 responden generasi milenial berusia 25–40 tahun yang aktif menggunakan mobile banking dan pernah menggunakan QRIS. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif serta regresi linear berganda berdasarkan Technology Acceptance Model (TAM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan QRIS oleh nasabah milenial masih berada pada kategori sedang, ditunjukkan oleh 42% responden yang hanya menggunakan QRIS sebanyak 1–5 kali dalam satu bulan terakhir, sedangkan 46% responden masih menjadikan pembayaran tunai sebagai metode utama. Persepsi manfaat dan persepsi kemudahan penggunaan terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku penggunaan aktual QRIS mobile banking dengan koefisien regresi masing-masing sebesar 0,361 (t = 4,522; p < 0,001) dan 0,287 (t = 3,764; p < 0,001). Secara simultan kedua variabel berpengaruh signifikan terhadap perilaku penggunaan aktual (F = 32,846; p < 0,001) dan mampu menjelaskan 40,3% variasi perilaku penggunaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun nasabah milenial memiliki persepsi yang positif terhadap QRIS mobile banking, intensitas penggunaan aktualnya masih dipengaruhi oleh kebiasaan transaksi dan faktor eksternal lainnya. Temuan ini memperkuat Technology Acceptance Model sekaligus menunjukkan pentingnya penguatan ekosistem pembayaran digital guna mendorong terbentuknya masyarakat tanpa uang tunai yang lebih berkelanjutan.