Sistem pendidikan di Indonesia saat ini menghadapi paradoks antara peningkatan capaian akademik dan menurunnya kualitas moral peserta didik. Survei penilaian integritas pendidikan nasional mencatat penurunan indeks integritas dari 73,70 menjadi 69,50, dengan praktik ketidakjujuran akademik seperti menyontek masih ditemukan pada 78% sekolah dan 98% perguruan tinggi. Kondisi ini menunjukkan adanya krisis integrasi antara ilmu dan akhlak yang belum tertangani secara sistematis dalam kebijakan maupun praktik pendidikan nasional. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk krisis integrasi ilmu dan akhlak, menganalisis faktor-faktor penyebabnya, serta merumuskan alternatif solusi yang aplikatif bagi sistem pendidikan di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi literatur yang bersifat kritis-interpretatif. Data sekunder dikumpulkan dari jurnal ilmiah, buku akademik, dan dokumen kebijakan pendidikan berbahasa Indonesia, Arab, dan Inggris, kemudian dianalisis dengan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krisis integrasi ilmu dan akhlak termanifestasi dalam lima aspek, yaitu dominasi orientasi nilai akademik, rendahnya kejujuran, minimnya empati sosial, pemisahan kurikulum ilmu dan nilai, serta pengaruh negatif lingkungan digital. Faktor penyebab utamanya mencakup dominasi pendekatan kognitif dalam pembelajaran, lemahnya keteladanan pendidik, dan hilangnya adab dalam proses pendidikan. Implikasinya, penelitian ini merekomendasikan penerapan paradigma pendidikan integratif yang menyatukan dimensi intelektual dan moral sebagai kebutuhan mendesak bagi pembaruan kurikulum, pedagogik, dan kebijakan pendidikan nasional. Metodenya kualitatif. Saya melakukan tinjauan pustaka—bukan cuma dari sumber berbahasa Indonesia, tapi juga Arab dan Inggris. Prosedurnya dimulai dari mengumpulkan literatur, lalu membaca kebijakan-kebijakan pendidikan yang ada, dilanjutkan dengan studi-studi sebelumnya tentang pendidikan karakter. Setelah data terkumpul, saya pakai analisis tematik. Intinya, mencari pola-pola yang berulang. Nah, temuan penelitian ini cukup menarik. Sistem pendidikan kita ternyata masih terlalu fokus ke pencapaian kognitif. Hafal rumus, bisa ujian, nilai bagus. Tapi pengembangan moral seolah jadi nomor dua. Akibatnya? Perilaku siswa seperti ketidakjujuran akademik, tanggung jawab yang lembek, dan kesadaran sosial yang tipis mulai terlihat jelas. Penyebab lainnya: kurikulum yang terpisah-pisah, guru yang kurang memberi teladan, dan tentu saja pengaruh dari luar seperti media digital. Kesimpulannya? Kita butuh perubahan mendesak. Pendidikan nggak bisa hanya menghasilkan anak-anak yang pinter secara intelektual tapi hampa moral. Harus ada kerangka baru—yang utuh, yang menyatukan ilmu dan akhlak. Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan bangsa ini adalah individu-individu yang cerdas, tapi juga punya integritas dan rasa tanggung jawab sosial