Nanda Mikola Putra Miko
IAIN PAREPARE

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Kebebasan Pers dalam Transisi Demokrasi: Studi Kasus Indonesia Pasca-Reformasi Nanda Mikola Putra Miko
Publisistik: Riset Jurnalistik dan Media Komunikasi Vol. 2 No. 1 (2025): Publisistik : Riset Jurnalistik dan Media Komunikasi
Publisher : Program Studi Jurnalistik Islam Institut Agama Islam Negeri Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/publistikji.v2i1.14655

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika kebebasan pers dalam konteks transisi demokrasi di Indonesia pasca-Reformasi 1998. Kejatuhan rezim Orde Baru menandai perubahan besar dalam struktur politik Indonesia, termasuk terbukanya ruang bagi kebebasan berekspresi dan kemerdekaan pers. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan menelaah berbagai sumber sekunder, terutama artikel jurnal ilmiah, laporan lembaga pemantau pers, dan dokumen peraturan perundang-undangan yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun secara normatif kebebasan pers di Indonesia telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, pelaksanaannya di lapangan masih menghadapi berbagai hambatan. Ancaman terhadap jurnalis dalam bentuk kekerasan fisik, intimidasi, serta kriminalisasi masih sering terjadi. Selain itu, konsentrasi kepemilikan media di tangan segelintir elit politik dan ekonomi turut memengaruhi independensi redaksi serta keberagaman konten informasi yang tersedia untuk publik. Di era digital, tantangan semakin kompleks dengan diberlakukannya Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), yang dalam praktiknya sering digunakan untuk menjerat pengguna media sosial dan jurnalis yang kritis. Temuan ini menunjukkan bahwa kebebasan pers di Indonesia masih berada dalam proses konsolidasi yang belum sepenuhnya matang. Oleh karena itu, perlindungan hukum yang lebih kuat, komitmen etika jurnalistik, serta budaya demokrasi yang terbuka perlu terus diperkuat untuk memastikan pers tetap menjadi salah satu pilar utama dalam menjaga demokrasi.