Transformasi budaya digital pada era disrupsi telah mengubah pola relasi keluarga, khususnya hubungan antara anak dan orang tua pada generasi Z. Intensitas penggunaan media digital, komunikasi virtual, serta perubahan struktur otoritas sosial memengaruhi pola komunikasi, kedekatan emosional, dan orientasi moral generasi muda. Kondisi tersebut menuntut reinterpretasi konsep birrul walidain sebagai fondasi etika keluarga dalam Islam agar tetap relevan dengan karakter generasi digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara kritis konsep birrul walidain dalam Akhlak lil Banin karya Syekh Ahmad Baradja serta mentransformasikannya secara kontekstual dalam menghadapi disrupsi generasi Z. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain critical library research melalui pendekatan hermeneutik-kontekstual dan qualitative content analysis. Data primer berasal dari kitab Akhlak lil Banin, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur ilmiah, laporan institusional, dan penelitian kontemporer mengenai generasi digital, komunikasi keluarga, serta pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep birrul walidain dibangun atas empat dimensi utama, yaitu otoritas dan kepatuhan, komunikasi beradab, afeksi relasional, dan spiritualitas intrinsik. Namun, karakter generasi Z yang lebih dialogis, ekspresif, dan negosiatif menimbulkan kebutuhan adaptasi terhadap pola relasi klasik tersebut. Penelitian ini merumuskan Adaptive Birrul Walidain Model (ABWM) sebagai model etika relasional yang mengintegrasikan dialog berbasis respek, komunikasi asertif-etis, empati reflektif, dan spiritualitas intrinsik. Model ini menegaskan pentingnya reinterpretasi turāth pendidikan Islam secara kontekstual agar nilai-nilai akhlak tetap relevan tanpa kehilangan fondasi etik dan transendensinya.