This Author published in this journals
All Journal Pojok Guru
zainal abidin
IAI Hasanuddin Pare Kediri

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

AKSIOLOGI PENDIDIKAN ISLAM SUMBER, HIERARKI, DAN IMPLEMENTASI NILAI DALAM TRADISI PESANTREN zainal abidin
POJOK GURU: Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2026): POJOK GURU
Publisher : Center for the Research and the Community Service, Islamic Institut of Hasanuddin Pare - Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55148/2czd9a23

Abstract

Artikel ini mengkaji aksiologi dalam perspektif Islam dengan fokus pada sumber, hierarki, dan implementasi nilai dalam pendidikan Islam, khususnya dalam konteks tradisi pesantren Ahlussunnah wal Jamaah (ASWAJA). Aksiologi sebagai cabang filsafat yang membahas nilai berperan menentukan arah, tujuan, dan kriteria kebermaknaan proses pendidikan. Dalam tradisi Islam, nilai-nilai fundamental dirumuskan dalam konsep al-khair (kebaikan), al-ḥaqq (kebenaran), dan al-jamāl (keindahan) yang berakar pada wahyu, akal, dan fitrah manusia. Pendidikan Islam dipahami sebagai proses pemanusiaan yang berorientasi pada penghambaan kepada Allah dan pemakmuran bumi sebagai khalifah-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam tujuan penciptaan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Penelitian ini menelaah kitab-kitab turats pesantren bercorak ASWAJA, seperti kitab Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn karya imam al-Ghazali, Ta‘līm al-Muta‘allim karya Syekh Burhanuddin al-Zarnuji, Adab al-‘Ālim wa al-Muta‘allim karya KH. Hasyim Asy‘ari, dan Naṣā’iḥ al-‘Ibād karya Syekh Nawawi al-Bantani, serta beberapa literatur kontemporer tentang filsafat. Hasil kajian menunjukkan bahwa aksiologi pendidikan Islam bertumpu pada sumber nilai utama, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah, yang dijelaskan dan diinternalisasikan melalui tradisi keilmuan pesantren melalui pola sorogan, bandongan, dan pembiasaan adab dalam kehidupan sehari-hari santri. Nilai-nilai tersebut tersusun dalam hierarki yang dapat dipahami melalui maqāṣid al-syarī‘ah dan tingkatan kebutuhan ḍarūriyyāt, ḥājiyyāt, taḥsīniyyāt. Etika (akhlak) menjadi manifestasi konkret dari nilai, sehingga pendidikan Islam tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian dan adab peserta didik. Tujuan akhirnya adalah terbentuknya insān kāmil (manusia paripurna) yang seimbang secara spiritual, moral, intelektual, dan sosial.