This Author published in this journals
All Journal HelFin Journal
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

CONTINUITY OF CARE DALAM LAYANAN KESEHATAN PRIMER TERHADAP PENDERITA KUSTA: A NARRATIVE REVIEW: CONTINUITY OF CARE DALAM LAYANAN KESEHATAN PRIMER TERHADAP PENDERITA KUSTA: A NARRATIVE REVIEW Clausewitz Masala
HelFin Journal Vol. 3 No. 2 (2026): Juli
Publisher : Fakultas Vokasi Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/helfin.v3i2.8496

Abstract

Kusta (Morbus Hansen) tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. Pada tahun 2024, tercatat 14.698 kasus baru dengan Case Detection Rate sebesar 5,24 per 100.000 penduduk; 5,9% di antaranya disertai disabilitas tingkat 2 (Grade 2 Disability/G2D). Artikel ini bertujuan menelaah relevansi konseptual kerangka Kesinambungan Pelayanan (Continuity of Care/CoC) bagi tata kelola kusta di layanan kesehatan primer, serta merangkum bukti mengenai hambatan deteksi dan penanganan kusta di Indonesia. Artikel ini disusun sebagai narrative review berdasarkan penelusuran literatur pada basis data akademik dan dokumen kebijakan resmi WHO serta Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dengan prinsip bahwa setiap sumber yang disitasi harus dapat diverifikasi keberadaannya secara langsung, menghasilkan 14 sumber yang memenuhi kriteria inklusi dari 58 rekaman awal. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa kerangka CoC, yang terdiri atas tiga dimensi (informasional, manajerial, dan relasional), secara konseptual relevan bagi kusta mengingat sifat kronis penyakit ini. Studi berbasis komunitas di Kabupaten Tegal menemukan rata-rata keterlambatan deteksi kasus sebesar 13,0 bulan, dengan kontribusi terbesar dari keterlambatan pasien (9,7 bulan) dibandingkan keterlambatan sistem kesehatan (3,2 bulan). Pemerintah Indonesia telah menyusun Rencana Aksi Nasional Zero Leprosy (NAP-L) dengan empat strategi utama. Tinjauan ini menyimpulkan bahwa kerangka CoC relevan secara konseptual, namun bukti empiris spesifik mengenai implementasinya dalam konteks kusta di Indonesia masih sangat terbatas dalam literatur yang dapat diverifikasi. Secara praktis, temuan ini mengarahkan kebutuhan integrasi eksplisit prinsip CoC ke dalam NAP-L dan penelitian primer lanjutan untuk menguji penerapannya pada layanan kusta di Indonesia.