Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Hubungan Inisiasi Menyusu Dini, Bayi Berat Lahir Rendah dan Pemberian ASI Eksklusif dengan Balita Stunting di Puskesmas Banjarsari Ernita Indah Wardhani; Ika Oktaviani; Herlina Herlina
ANTHOR: Education and Learning Journal Vol 5 No 3 (2026): Anthor 2026
Publisher : Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/anthor.v5i3.600

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi perhatian karena berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan kualitas sumber daya manusia. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), prevalensi stunting global pada tahun 2024 mencapai 23,2%, sedangkan prevalensi stunting di Indonesia sebesar 19,8%. Puskesmas Banjarsari merupakan wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi di Kota Metro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan inisiasi menyusu dini (IMD), bayi berat lahir rendah (BBLR), dan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Banjarsari Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain survei analitik dengan pendekatan case control. Sampel penelitian berjumlah 60 responden yang terdiri atas 20 kelompok kasus dan 40 kelompok kontrol yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi menggunakan lembar checklist, pengukuran antropometri, dan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 66,7% balita mendapatkan IMD, 16,7% memiliki riwayat BBLR, dan 51,7% mendapatkan ASI eksklusif. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara IMD dengan kejadian stunting (p=0,026; OR=4,210; 95% CI=1,331–13,320), BBLR dengan kejadian stunting (p=0,002; OR=12,667; 95% CI=2,361–67,958), serta ASI eksklusif dengan kejadian stunting (p=0,036; OR=3,889; 95% CI=1,230–12,292). Faktor yang memiliki risiko terbesar terhadap kejadian stunting adalah BBLR, di mana balita dengan riwayat BBLR memiliki peluang 12,667 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan balita dengan berat lahir normal. Kesimpulan Inisiasi menyusu dini, bayi berat lahir rendah, dan pemberian ASI eksklusif berhubungan signifikan dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Banjarsari Tahun 2025.