This study was motivated by the increasing number of single mothers in Indonesia who face dual roles as caregivers and breadwinners, which may affect their children's psychological well-being. The study aims to explore how single mothers understand and fulfill their children's psychological well-being through economic independence and parenting practices. Using a qualitative phenomenological approach, data were collected through in-depth interviews with six single mothers who run businesses and have school-age children. The findings indicate that mothers define psychological well-being as children feeling happy, safe, and having their needs fulfilled. To achieve economic independence, mothers manage home-based businesses that allow them to remain present for their children. Parenting practices emphasize discipline, affection, open communication, and responsibility. Based on Ryff’s dimensions of psychological well-being, children demonstrate positive development in self-acceptance, social relationships, autonomy, environmental mastery, purpose in life, and personal growth. These outcomes are shaped by the mothers’ resilience and additional support systems. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya jumlah ibu single parent di Indonesia yang menghadapi tantangan ganda dalam memenuhi kemandirian ekonomi sekaligus memastikan kesejahteraan psikologis anak. Kondisi tersebut menuntut ibu untuk menjalankan peran pengasuhan dan pencari nafkah secara bersamaan, sehingga berpotensi memengaruhi perkembangan emosional, sosial, serta keberfungsian psikologis anak. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam bagaimana ibu single parent memaknai dan memenuhi kesejahteraan psikologis anak melalui kemandirian ekonomi serta pola pengasuhan yang mereka jalankan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap enam ibu single parent yang memiliki usaha UMKM dan anak usia sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis anak dimaknai ibu sebagai kondisi ketika anak merasa bahagia, aman, dan tercukupi kebutuhannya. Para ibu berupaya mencapai kemandirian ekonomi melalui usaha rumahan yang memungkinkan mereka tetap mendampingi anak, sementara pengasuhan dilakukan dengan penekanan pada disiplin, kasih sayang, komunikasi terbuka, serta penanaman nilai tanggung jawab. Analisis berdasarkan aspek-aspek psychological well being Ryff mengungkap bahwa anak menunjukkan perkembangan positif dalam penerimaan diri, hubungan sosial, kemandirian, penguasaan lingkungan, tujuan hidup dan pertumbuhan pribadi, yang terbentuk melalui kombinasi antara ketangguhan ibu, dukungan sosial, serta adaptasi keluarga terhadap perubahan peran.