Motivated by the rising trend of delayed marriage and non-committed relationships (situationship) among young Indonesians. This study aimed to examine the influence of fear of commitment on marital readiness among single emerging adults in DKI Jakarta. A quantitative, non-experimental cross-sectional design was employed involving 139 participants aged 18–29 years. The Lebanese Fear of Relationship Commitment Scale (LFRC) and the Sukoon Marital Readiness Scale (SMRS) were administered online, with data analyzed using Pearson's correlation and simple linear regression. Findings revealed a significant negative relationship between fear of commitment and marital readiness (r=−0.180, p = .034), indicating that higher levels of fear of commitment are associated with lower marital readiness, and vice versa. Nevertheless, the contribution of fear of commitment to marital readiness was relatively small, accounting for only 3.3% of the variance (R² = 0.033), suggesting that other factors likely play larger roles. Two dimensions fear of emotional commitment and financial dependence, as well as tension related to the idea of marriage were significant predictors of lower marital readiness. Gender differences were also found, with women showing higher fear of commitment and lower marital readiness compared to men. Abstrak Penelitian ini didasari oleh meningkatnya tren penundaan pernikahan dan hubungan tanpa status (HTS) di kalangan dewasa muda Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fear of commitment terhadap marital readiness pada emerging adults lajang di DKI Jakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain non-eksperimental cross-sectional dan melibatkan 139 partisipan berusia 18-29 tahun. Instrumen yang digunakan adalah Lebanese Fear of Relationship Commitment Scale (LFRC) dan Sukoon Marital Readiness Scale (SMRS), dengan analisis data menggunakan korelasi Pearson dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara fear of commitment dan marital readiness (r = -0.180, p = .034). Artinya semakin besar rasa takut akan komitmen akan menurunkan kesiapan menikah, demikian juga sebaliknya. Meskipun demikian, pengaruh fear of commitment terhadap marital readiness relatif kecil dengan kontribusi sebesar 3,3% (R² = 0.033). Hasil ini menunjukkan fear of commitment berpengaruh negatif terhadap marital readiness, meskipun faktor lain berperan lebih besar. Dua dimensi yaitu fear of emotional commitment and financial dependence serta tension related to the idea of marriage menunjukkan pengaruh signifikan terhadap rendahnya kesiapan menikah. Selain itu, ditemukan perbedaan berdasarkan jenis kelamin, di mana perempuan memiliki tingkat fear of commitment yang lebih tinggi dan marital readiness yang lebih rendah dibanding laki-laki.