ABSTRACT This study aims to examine the meaning of the #KaburAjaDulu phenomenon among students amidst exposure to social crisis content on social media. The phenomenon of doomscrolling, which is the habit of continuously consuming negative content, has affected students using TikTok, Instagram, and X. This research employs purposive sampling and qualitative phenomenology. A study was conducted on ten students who are active social media users. After data was collected through in-depth interviews, digital recording, and social media observation, it was then analysed using Thematic Analysis (Braun & Clarke, 2006). According to the research findings, KaburAjaDulu is regarded as a form of digital escapism, symbolic resistance, and an expression of socio-political dissatisfaction. This hashtag also helps alleviate fatigue when interacting in the virtual world. KaburAjaDulu is a communication style arising from digital fatigue and the social crises currently facing society. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemaknaan fenomena #KaburAjaDulu oleh mahasiswa di tengah paparan konten krisis sosial di media sosial. Fenomena doomscrolling, yang merupakan kebiasaan mengonsumsi konten negatif secara terus-menerus, telah mempengaruhi mahasiswa yang menggunakan TikTok, Instagram, dan X. Penelitian ini menggunakan sampling purposive dan fenomenologi kualitatif. Sebuah studi dilakukan pada sepuluh mahasiswa yang aktif menggunakan media sosial. Setelah data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, pencatatan digital, dan observasi media sosial, kemudian dianalisis menggunakan Analisis Tematik (Braun & Clarke, 2006). Menurut hasil penelitian, KaburAjaDulu dianggap sebagai bentuk escapism digital, perlawanan simbolis, dan ekspresi ketidakpuasan sosial-politik. Tagar ini membantu mengurangi kelelahan saat berinteraksi di dunia maya juga. KaburAjaDulu adalah gaya komunikasi yang berasal dari kelelahan digital dan krisis sosial yang sedang dihadapi masyarakat saat ini.