Syifa Ullinnas
Institut Agama Islam Sumatera Barat

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Tradisi Saisuak Balimau Sebagai Local Wisdom Masyarakat Pariaman Dalam Menyambut Bulan Suci Analisis Pergeseran Makna Budaya Hamzah Irfanda; Syifa Ullinnas
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 2 No. 1 (2026): Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v2i1.558

Abstract

The Saisuak Balimau tradition is a local wisdom of the Pariaman City community in welcoming the holy month of Ramadan. This tradition is essentially interpreted as a symbol of self-purification, both physically and spiritually, before entering the month full of worship. However, in contemporary practice, there has been a shift in meaning marked by the emergence of activities that are less in line with religious values ??and the principles of Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. This phenomenon is important to study because it shows the tension between the preservation of local culture and Islamic values ????amidst social changes in society. Previous studies generally discuss balimau as a cultural tradition or as part of the ritual of welcoming Ramadan, but not many have critically examined the dynamics of shifting meanings and their implications for community religious awareness. Therefore, this study seeks to fill this gap by analyzing the Saisuak Balimau tradition as local wisdom whose meaning needs to be reconstructed to remain relevant, educational, and aligned with Islamic sharia values ????in the social context of contemporary Pariaman society. Balimau is one of the traditions of the Pariaman people in welcoming the holy month of Ramadan. Its original meaning is good because it is an effort to cleanse the body/body and lime and fragrances in nature. However, in fact, what happens is no longer a balimau bath but a balunau because of the mixing between men and women so that it is no longer seen as good, which has been criticized by many community leaders and religions. [Tradisi Saisuak Balimau merupakan kearifan lokal masyarakat Kota Pariaman dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Tradisi ini pada dasarnya dimaknai sebagai simbol penyucian diri, baik secara lahir maupun batin, sebelum memasuki bulan penuh ibadah. Namun, dalam praktik yang terjadi era kontemporer ini, terjadi pergeseran makna yang ditandai dengan munculnya aktivitas yang kurang sejalan dengan nilai-nilai religius dan prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Penelitian ini bertujuan menganalisis Fenomena ini penting dilakukan penelitian karena menunjukkan adanya ketegangan antara pelestarian budaya lokal dan nilai keislaman di tengah perubahan sosial masyarakat penelitian terdahulu umumnya membahas balimau sebagai tradisi budaya atau sebagai bagian dari ritual penyambutan Ramadan tetapi belum banyak yang menelaah secara kritis dinamika pergeseran makna serta implikasinya terhadap kesadaran keagamaan masyarakat. Oleh karena itu, penelitianmenggunakan metode kulaitatif penelitian lapangan  ini berupaya mengisi kekosongan tersebut dengan menganalisis tradisi Saisuak Balimau sebagai kearifan lokal yang perlu direkonstruksi maknanya agar tetap relevan, edukatif, dan selaras dengan nilai syariat Islam dalam konteks sosial masyarakat Pariaman masa kini. Temuan dari penelitian ini menunjukan bahwa Balimau salah satu tradisi masyarakat pariaman dalam menyambut bulan suci ramadhan makna asalnya baik karena salah satu upaya dalam membersihkan badan/jasmani dan limau serta wewangian yang ada di alam,tapi faktanya yang terjadi bukan lagi mandi balimau tapi balunau karena adanya percampuran antara laki-laki dan perempuan sehingga sudah tidak elok di pandang banyak kritik dari tokoh masyarakat,dan agama.]