Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

METODE STORYTELLING (KISAH QUR’ANI) SEBAGAI STRATEGI PEMBELAJARAN PAI EFEKTIF: TINJAUAN TEORI KOMUNIKASI MASSA Muhammad Ismail; Khusnu Al Rizqiyah; Olivia Zhulinsky; Dika Ali Gunawan
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 2 (2025): Volume 8 No. 2 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i2.60039

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi karakteristik struktural dan retorika komunikasi Kisah Qur’ani serta memformulasikannya sebagai strategi instruksional berbasis cerita guna memitigasi krisis atensi (short attention span) siswa pada pembelajaran PAI dalam Kurikulum Merdeka. Metode yang digunakan adalah analisis isi kualitatif (qualitative content analysis). Korpus data mencakup total 157 unit analisis ayat dari Surah Yusuf (111 ayat) dan Surah Al-Qashash (46 ayat) yang dikodifikasi secara digital menggunakan perangkat lunak NVivo 14 melalui fitur Coding Matrix Analysis. Temuan utama menunjukkan bahwa retorika Kisah Qur’ani secara dominan digerakkan oleh elemen Fidelitas Naratif sebesar 41,2% (56 referensi koding) dan Koherensi Naratif sebesar 34,5% (47 referensi koding). Efek Pembingkaian mencatatkan angka akumulasi terendah sebesar 24,3% (35 referensi koding). Namun, ditemukan anomali kerapatan data (data density anomaly) yang signifikan pada Surah Al-Qashash, di mana jumlah referensi koding pada aspek pembingkaian konflik (17 referensi) hampir menyamai Surah Yusuf (18 referensi) meskipun panjang ayatnya kurang dari separuhnya. Hal ini membuktikan bahwa Al-Qur'an meningkatkan intensitas pembingkaian retorika secara dinamis sebanding dengan kompleksitas ketegangan makro-politik yang dihadapi oleh tokoh di dalam cerita. Implikasi penelitian ini menawarkan model rekayasa pedagogis melalui dua jangkar operasional kelas, yaitu teknik Suspense Storytelling dan Contextual Framing. Strategi ini berkontribusi nyata bagi guru PAI dalam merebut kembali fokus kognitif mendalam siswa dan menginternalisasikan karakter Profil Pelajar Pancasila secara persuasif ke dalam ranah afektif siswa di era digital.