Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi rendahnya frekuensi penggunaan Light Rail Transit (LRT) oleh masyarakat yang tinggal di wilayah pinggiran Kota Palembang. Meskipun layanan LRT dinilai baik pada aspek kenyamanan, keamanan, kebersihan, ketepatan waktu, dan keterjangkauan tarif, tingkat pemanfaatannya masih belum optimal. Hambatan utama yang ditemukan adalah aspek aksesibilitas, terutama terkait perjalanan awal dari rumah menuju stasiun (first-mile). Sebagian besar responden tinggal pada radius 1–3 km dari stasiun sehingga memerlukan moda transportasi tambahan seperti ojek, angkot, atau kendaraan pribadi. Keterbatasan jangkauan feeder yang belum merata berkontribusi pada tingginya biaya tambahan dan waktu tempuh yang kurang efisien. Penelitian ini menggunakan metode survei terhadap 100 responden yang dipilih melalui purposive sampling di beberapa kawasan pinggiran seperti Talang Kelapa, Sukarami, dan Kertapati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesibilitas menjadi determinan utama dalam keputusan penggunaan LRT, sedangkan persepsi layanan berperan sebagai faktor pendukung. Responden dengan akses lebih mudah memiliki kecenderungan menggunakan LRT lebih sering, sedangkan mereka yang menghadapi hambatan jarak dan ketersediaan moda penghubung tetap memilih kendaraan pribadi meskipun menilai kualitas layanan LRT sangat baik. Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan integrasi antarmoda, penyediaan feeder yang lebih luas, serta perbaikan infrastruktur jalan lingkungan untuk memperkuat fungsi LRT sebagai transportasi publik yang inklusif dan efisien di wilayah pinggiran Kota Palembang.