Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

IDENTIFIKASI JENIS DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DI PERAIRANKOLONG PASCATAMBANG TIMAH DI KABUPATEN BANGKA TENGAH Rahmi Valina; Agung Riswandi; Ufi Ayu Wulandari; Venisa Pratama
Journal of Aquatropica Asia Vol 11 No 1 (2026): Journal of Aquatropica Asia
Publisher : Program Studi Akuakultur, Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/c33qzg27

Abstract

Penambangan timah di Kabupaten Bangka Tengah telah menyebabkan perubahan fisika, kimia, dan biologi perairan yang mempengaruhi struktur komunitas organisme akuatik, termasuk fitoplankton. Fitoplankton berperan sebagai produsen primer dan indikator kualitas air, sehingga identifikasi jenis dan kelimpahannya penting untuk menilai status ekosistem kolong pascatambang dan potensi pemanfaatannya untuk akuakultur. Tujuan penelitian ini yakni guna mengidentifikasi komposisi jenis, kelimpahan, serta struktur ekologi fitoplankton pada tiga kolong pascatambang timah dengan tingkat aktivitas antropogenik yang berbeda. Penelitian dilaksanakan pada September–November 2025 melalui metode survei dengan teknik purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan pada tiga kolong, masing-masing diambil tiga titik dan diulang sebanyak tiga kali. Parameter kualitas air mencakup suhu, kecerahan, TDS, pH, DO, nitrat, dan fosfat. Temuan penelitian menunjukkan terdapat 46 genus fitoplankton yang tergolong dalam 5 filum dan 12 kelas. Filum Chlorophyta mendominasi seluruh kolong, dengan kelimpahan relatif tertinggi pada kolong 3 sebesar 72%. Kelimpahan fitoplankton berkisar antara 1.397–32.532 sel/mL yang tergolong kedalam perairan oligotrofik - eutrofik, dengan nilai tertinggi pada kolong 3 yang dipengaruhi oleh tingginya nutrien dari aktivitas pemukiman. Nilai indeks keanekaragaman (H’) pada rentang 1,67–2,96 diklasifikasikan sebagai kategori sedang, indeks keseragaman (E) pada rentang 0,64–0,94 diklasifikasikan sebagai kategori tinggi, dan indeks dominansi (C) pada rentang 0,09–0,26 diklasifikasikan sebagai kategori rendah.  Hasil tersebut menunjukkan komunitas yang stabil tanpa adanya dominasi ekstrem. Parameter kualitas air umumnya masih mendukung kehidupan fitoplankton, meskipun beberapa parameter seperti suhu, fosfat, dan nitrat melebihi baku mutu. Kolong pascatambang timah di Desa Terak memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai media akuakultur. Namun, pengelolaan dan pengontrolan kualitas air serta masukan nutrien perlu dilakukan guna menjaga stabilitas ekosistem dan mencegah terjadinya eutrofikasi yang berlebihan di masa yang akan datang.