This Author published in this journals
All Journal Sehat Masada
Fitri Kustiawati
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ANALISIS PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP PENYAKIT KATARAK DI DESA CIBURIAL KECAMATAN CIMENYAN, KABUPATEN BANDUNG Mayarani Mayarani; Fitri Kustiawati
Jurnal Sehat Masada Vol 20 No 2 (2026): Jurnal Sehat Masada
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38037/jsm.v20i2.612

Abstract

Penyakit katarak merupakan penyebab utama gangguan penglihatan global yang dapat mengakibatkan kebutaan jika tidak ditangani sejak dini. Di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, karakteristik wilayah dataran tinggi dengan aktivitas luar ruangan yang intens meningkatkan risiko paparan sinar ultraviolet bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat di Desa Ciburial terhadap pencegahan dan penanganan penyakit katarak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian mencakup warga RT.05 RW.01 Desa Ciburial yang berjumlah 437 orang. Sampel dipilih menggunakan teknik probability sampling dengan rumus Slovin hingga diperoleh 100 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis univariat melalui distribusi frekuensi persentase. Hasil analisis menunjukkan karakteristik responden didominasi oleh kelompok usia 17–25 tahun (73%) dan berpendidikan SMA (52%). Sebanyak 67% responden memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori cukup, 30% berkategori baik, dan 3% berkategori kurang. Dari aspek sikap, mayoritas responden menunjukkan sikap dalam kategori baik (73%), diikuti kategori sangat baik (13%), kurang (9%), dan sangat kurang (5%). Secara umum, masyarakat Desa Ciburial memiliki pengetahuan yang cukup dan sikap yang baik terhadap penyakit katarak. Namun, keberadaan kelompok usia tua dan berpendidikan rendah memerlukan intervensi yang lebih spesifik. Tenaga kesehatan seperti optometris disarankan meningkatkan penyuluhan menggunakan media yang aplikatif, memfasilitasi program skrining mata gratis secara rutin, serta melatih kader kesehatan desa demi menekan risiko kebutaan akibat keterlambatan penanganan katarak.