This Author published in this journals
All Journal MANUSKRIPTA
Aditia Gunawan
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Produksi Naskah dan Mistisisme Aksara dalam Bhīma Svarga Aditia Gunawan
Manuskripta Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v6i1.55

Abstract

As in other parts of Asia, the figure of Bhīma also been cult in Java. The popularity of this figure has been recorded in the spread of archaeological heritages such as inscriptions, statues, and reliefs, as well as textual legacies by Bhīma as the main character. The text that is discussed in this article, Bhīma Svarga, is one version of which 'might' contain the oldest text. This text was written in the 16th century and has never been satisfactorily studied. This text contains a dialogue between Bhaṭāra Guru and Bhīma who wants to save his father, Pāndu, from hell. All of Bhaṭāra Guru’s questions can be answered perfectly. The Bhīma’s answers is the core of the text, the doctrines of Śivaisme with many aspects of cosmological and philosophical. This article introduces the manuscript sources containing the text of Bhīma Svarga from the scriptorium of West Java that has been ignored in terms of Bhīma Svarga’s manuscript tradition in Bali. Additionally, this article also provides an overview of the production of manuscripts and meanings of the scripts at the time the text was written. === Seperti di belahan Asia yang lain, tokoh Bhīma pernah dikultuskan di Jawa. Popularitas tokoh ini terekam dalam sebaran peninggalan arkeologis seperti prasasti, arca, dan relief, maupun peninggalan teks-teks dengan Bhīma sebagai tokoh utama. Teks yang didiskusikan dalam artikel ini, Bhīma Svarga, merupakan salah satu versi yang ‘mungkin’ mengandung teks tertua. Teks ini ditulis pada abad ke-16 dan belum pernah diteliti secara memuaskan. Teks ini berisi dialog antara Bhaṭāra Guru dan Bhīma yang hendak menyelamatkan ayahnya, Pāndu, dari neraka. Semua pertanyaan dari Bhaṭāra Guru bisa dijawab dengan sempurna. Jawaban-jawaban Bhīma inilah yang menjadi inti dari teks, yaitu doktrin-doktrin Śivaisme serta aspek kosmologis dan filosofisnya yang kaya. Artikel ini memperkenalkan sumber-sumber naskah yang berisi teks Bhīma Svarga dari skriptorium Jawa Barat yang selama ini diabaikan dalam kaitannya dengan Bhīma Svarga dari tradisi pernaskahan Bali. Selain itu, artikel ini juga memberikan gambaran mengenai produksi naskah dan pemaknaan terhadap aksara pada masa teks tersebut ditulis.
Persahabatan Ulama Sunda Aditia Gunawan
Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v8i1.99

Abstract

The book by Jajang A. Rohmana, titled Informan Sunda Masa Kolonial: Surat-surat Haji Hasan Mustapa untuk Snouck Hurgronje dalam Kurun 1894–1923 (Sundanese Informants in the Colonial Era: Letters of Haji Hasan Mustapa to Snouck Hurgronje, 1894–1923), marks a significant contribution to the historiography of Islam in West Java. This philological study examines a corpus of private letters written in Arabic sent by the renowned Sundanese poet, Haji Hasan Mustapa (1852–1930), to C. Snouck Hurgronje. Most studies on Islamic history in the Indonesian Archipelago have hitherto focused primarily on literary works, religious treatises, or the Arab-Haramayn scholarly networks, often leaving personal correspondence overlooked. In fact, private letters hold immense historical value, as they capture the author's inner psychological state, intellectual dynamics, and the broader socio-political context rich in historical data. Through a philological reconstruction of these historical fragments, Rohmana’s research not only enriches the study of Islamic history in the Sundanese lands (Tatar Sunda) but also opens a new paradigm in utilizing epistolary sources for writing the history of the Archipelago. === Buku karya Jajang A. Rohmana yang berjudul Informan Sunda Masa Kolonial: Surat-surat Haji Hasan Mustapa untuk Snouck Hurgronje dalam Kurun 1894–1923 menjadi kontribusi penting dalam historiografi Islam di Jawa Barat. Penelitian filologis ini mengkaji korpus surat-surat pribadi berbahasa Arab yang dikirimkan oleh pujangga Sunda, Haji Hasan Mustapa (1852–1930), kepada C. Snouck Hurgronje. Kebanyakan kajian sejarah Islam Nusantara selama ini berfokus pada karya literer, kitab keagamaan, atau jaringan keilmuan Arab-Haramayn, sehingga dokumen korespondensi pribadi kerap terabaikan. Padahal, surat-surat pribadi memiliki nilai historis yang sangat tinggi karena mampu merekam situasi batin, dinamika pemikiran, serta konteks sosial-politik zaman yang kaya akan data sejarah. Melalui rekonstruksi filologis terhadap serpihan sejarah ini, penelitian Rohmana tidak hanya memperkaya studi sejarah Islam di Tatar Sunda, tetapi juga membuka paradigma baru dalam pemanfaatan sumber-sumber epistolari untuk penulisan sejarah Nusantara.