This Author published in this journals
All Journal MANUSKRIPTA
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Musa Kang Kapisan Kaarangan Purwaning Dumadi: Kajian Teologi Penciptaan Alam dan Manusia Doni Wahidul Akbar; Titin Nurhayati Ma'mun
Manuskripta Vol 8 No 2 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The ancient manuscripts of Nusantara (Indonesian Archipelago) is the cultural heritage of the past in which high value, not only to the past also to the present. One of the scripts that have a significance the present for the people of the archipelago is the manuscripts Kitab Musa: Layang Musa Kang Kapisan Kaarangan Purwaning Dumadi. This study uses the philological and theological approaches. This manuscripts explains the value of Christian teachings that include the occurrence of the universe, the creation of man, the sins of mankind, man fell into sin, and God help the man rose from the sin that they do. The information actualized its spread through the Arabic Pegon alphabet and Javanese culture prevailing at that time namely the script used in the Qur'an. It shows that the manuscripts Kitab Musa: Layang Musa Kang Kapisan Kaarangan Purwaning Dumadi as document the spread of Christianity in the Islamic period are in Java. The findings of this study is about the chronology of the creation of the universe and the creation of humans as well as Christian Godhead theology guidelines. === Naskah kuna Nusantara merupakan warisan budaya masa lalu yang isinya bernilai tinggi, tidak hanya untuk masa lalu juga untuk masa kini. Salah satu naskah yang memiliki arti penting kekinian bagi masyarakat Nusantara adalah naskah Kitab Musa: Layang Musa Kang Kapisan Kaarangan Purwaning Dumadi. Penelitian ini menggunakan teori filologi dan metode teologi. Naskah ini menjelaskan pokok-pokok ajaran Kristiani yang meliputi terjadinya alam semesta, penciptaan manusia, dosa manusia, manusia jatuh dalam dosa, dan usaha Tuhan membantu manusia bangkit dari dosa yang mereka perbuat. Informasi itu diaktualisasikan penyebarannya melalui budaya Jawa dan aksara yang berlaku pada saat itu yaitu aksara Arab Pegon yang digunakan dalam Alqur’an. Hal itu menunjukkan bahwa naskah Kitab Musa: Layang Musa Kang Kapisan Kaarangan Purwaning Dumadi sebagai dokumen penyebaran ajaran Kristiani pada zaman Islam yang berada di Jawa. Temuan dari kajian ini adalah penjelasan tentang kronologi penciptaan alam semesta dan penciptaan manusia serta pedoman teologi ketuhanan agama Kristen.
Pola Rima Syi'iran dalam Naskah di Tatar Sunda dan Hubungannya dengan Pola Rima Syair Arab Titin Nurhayati Ma'mun
Manuskripta Vol 1 No 1 (2011): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Syi'iran is a familiar tradition in the Islamic boarding school (pesantren) world, particularly in Tatar Sunda. Besides being used to convey thoughts that generally take the form of invitations/exhortations, syi'iran is also utilized as a medium to impart Islamic teachings, specifically to santri (students) and generally to the community surrounding the pesantren. The use of syi'iran as an educational medium is viewed as highly effective because it is easier to remember and does not burden santri (or the community) with formal situations and learning patterns typical of general educational processes. Due to being sung or listened to frequently, syi'iran can naturally be memorized by heart without compulsion, which positively impacts the educational process around the pesantren. Through syi'iran, santri and the general public are expected to be awakened in their consciousness and possess the desire to follow the advice and religious teachings chanted through it. Given how deeply rooted the syi'iran tradition has been in Tatar Sunda over a long period, besides still being enjoyed via loudspeakers during religious recitations today, it is also proven by the presence of syi'ir notes found in classical manuscripts. The easiest aspect to recognize in manuscript syi'iran is the repetition of final sounds that form a musicality or orchestration, making syi'iran melodious when read. The habit of chanting Arabic poetry—whether through the tradition of reading the Barzanji, Shalawat, or poetic excerpts in Kitab Kuning—more or less, consciously or unconsciously, influences the rhyming patterns of syi'iran composed by local communities. This brings about several correspondences in rhyming patterns between syi'iran and Arabic poetry. The rhyming patterns of syi'iran in Sundanese manuscripts and their relation to the rhyming patterns of Arabic poetry discussed in this paper are expected to assist the text edition process in philological research, particularly for texts written in the form of syi'iran. === Syi'iran merupakan sebuah tradisi yang tidak asing lagi di dunia pesantren, khususnya yang terdapat di Tatar Sunda. Selain dipergunakan untuk menyampaikan buah pikiran yang umumnya berupa ajakan, syi'iran di gunakan pula sebagai media untuk menyampaikan ajaran agama Islam, khususnya kepada para santri dan umumnya kepada masyarakat di sekitar pesantren. Penggunaan syi'iran sebagai media pendidikan dipandang sangat efektif karena lebih mudah diingat dan tidak membebani santri (masyarakat) dengan situasi dan pola formal sebagaimana proses pembelajaran pada umumnya. Karena seringnya dinyanyikan atau diperdengarkan, syi'iran dengan sendirinya dapat dihafalkan di luar kepala tanpa keterpaksaan, hal ini tentu membawa dampak bagi proses pendidikan di sekitar pesantren. Melalui syi'iran, diharapkan para santri serta masyarakat umum tergugah kesadarannya dan memiliki keinginan untuk mengikuti nasihat serta ajaran agama yang disenandungkan melalui syi'iran tersebut. Demikian mengakarnya tradisi syi'iran yang telah berlangsung sejak lama di Tatar Sunda, selain saat ini masih dapat dinikmati melalui pengeras suara di pengajian-pengajian juga dapat dibuktikan dengan adanya catatan-catatan syi'ir yang terdapat pada naskah klasik. Hal yang paling mudah diketahui dari syi'iran pada naskah adalah adanya pengulangan bunyi akhir yang membentuk musikalitas atau orkestrasi sehingga membuat syi'iran menjadi merdu jika dibaca. Adanya kebiasaan melantunkan syair-syair Arab baik melalui tradisi pembacaan Barzanji, Shalawat, atau kutipan-kutipan syair pada Kitab Kuning sedikit banyak, baik disadari ataupun tidak, mempengaruhi pola rima syi'iran yang digubah oleh masyarakat lokal. Hal ini memunculkan sejumlah kesesuaian pola rima antara syi'iran dan sya'ir Arab. Pola rima syi'iran dalam naskah Sunda dan hubungannya dengan pola rima syair Arab yang dibahas dalam makalah ini diharapkan dapat membantu proses edisi teks dalam penelitian filologi, khususnya untuk teks yang berbentuk syi'iran.