Gusti Ngurah Arya Yudaparmita
Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Berbasis Kearifan Lokal Megoak-Goakan Terhadap Minat Belajar IPS Siswa Kelas IV Gugus VI Kecamatan Sawan Ni Luh Putu Deswinta Maharani; I Gede Suwindia; Gusti Ngurah Arya Yudaparmita
Walada: Journal of Primary Education Vol. 5 No. 3 (2026): Walada : Journal of Primary Education
Publisher : cendekia citra gemilang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/wjpe.v5i3.924

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berbasis kearifan lokal Megoak-goakan terhadap minat belajar IPS siswa. Masalah utama yang melatarbelakangi kajian ini adalah rendahnya minat belajar, sikap pasif, serta rendahnya rasa percaya diri siswa kelas IV yang menganggap IPS sebagai pelajaran hafalan yang membosankan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif melalui eksperimen semu (quasi-experimental design) dengan desain pre-test post-test. Sampel penelitian dipilih menggunakan teknik random sampling, yang melibatkan 36 siswa kelas V SD Negeri 4 Sangsit sebagai kelas eksperimen dan 34 siswa kelas V SD Negeri 1 Sangsit sebagai kelas kontrol. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji-t independen dibantu perangkat lunak SPSS. Hasil analisis data menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari penerapan model PBL berbasis kearifan lokal Megoak-goakan terhadap minat belajar siswa, yang dibuktikan dengan nilai sig. 0,000 < 0,05. Di kelas eksperimen, nilai rata-rata post-test meningkat secara signifikan dari 68,37 menjadi 85,89, dan suasana kelas menjadi jauh lebih aktif, terarah, serta kompetitif secara positif dibandingkan kelas kontrol konvensional. Implikasi praktis dari temuan ini menunjukkan bahwa integrasi kebudayaan lokal dalam model PBL berhasil mentransformasi suasana kelas menjadi aktif, terarah, dan kompetitif secara positif. Secara praktis, model ini dapat direkomendasikan sebagai alternatif model pembelajaran IPS inovatif bagi guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis kebudayaan lokal sekaligus melestarikan tradisi daerah sejak pendidikan dasar.