I Gusti Putu Suharta
Universitas Pendidikan Ganesha, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengembangan dan Implementasi Model Integrasi Kearifan Lokal Pada Pembelajaran IPAS Kurikulum Merdeka di SD Negeri Sori Katupa Daerah 3T Kabupaten Bima Muhammad Yamin; I Wayan Lasmawan; I Gusti Putu Suharta; I Wayan Widiana
Walada: Journal of Primary Education Vol. 5 No. 3 (2026): Walada : Journal of Primary Education
Publisher : cendekia citra gemilang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/wjpe.v5i3.984

Abstract

: Implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) menekankan pentingnya pembelajaran kontekstual yang sesuai dengan karakteristik lingkungan peserta didik. Namun, pelaksanaan pembelajaran IPAS di sekolah dasar, khususnya pada daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), masih didominasi oleh penggunaan bahan ajar yang bersifat umum sehingga belum mampu mengakomodasi potensi kearifan lokal sebagai sumber belajar. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan mengimplementasikan model integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran IPAS pada Kurikulum Merdeka di SD Negeri Sori Katupa, Kabupaten Bima. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap analisis, perancangan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Model yang dikembangkan mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal Bima, pengetahuan tradisional, serta praktik kehidupan masyarakat ke dalam tujuan pembelajaran, modul ajar, kegiatan berbasis proyek, media pembelajaran, dan asesmen autentik. Model ini dirancang untuk meningkatkan literasi sains, kemampuan berpikir kritis, kepedulian terhadap lingkungan, serta penguatan Profil Pelajar Pancasila. Kebaruan penelitian terletak pada pengembangan model pembelajaran yang secara khusus dirancang berdasarkan karakteristik kearifan lokal masyarakat Bima dan kebutuhan sekolah dasar di wilayah 3T. Model yang dihasilkan diharapkan menjadi alternatif inovatif dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka sekaligus memperkuat pelestarian budaya lokal dan meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS yang kontekstual, bermakna, dan berkelanjutan.