Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

TUBUH, FEMINITAS, DAN KUASA: RESISTENSI DAN SUBORDINASI DALAM HEGEMONI KOLONIAL PADA FILM BUMI MANUSIA Kurnia Alysia Aditianingrum
GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan Vol. 13 No. 6 (2026): 2026 Juni
Publisher : Lembaga Kajian Ilmu Sosial dan Politik (LKISPOL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56015/gjikplp.v13i6.907

Abstract

Film Bumi Manusia menunjukkan representasi akan kompleksitas relasi gender dalam struktur kolonial yang tidak hanya bersifat rasial, tetapi juga mengontrol tubuh dan identitas perempuan. Studi ini bertujuan untuk membongkar konstruksi gender yang berkaitan dengan hegemoni kolonial dan resistensi gender dalam film Bumi Manusia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis wacana kritis dari konsep representasi gender Connell dalam konteks Hegemoni (Gramsci) juga hegemoni kolonial yang bekerja pada ranah intim, yakni tubuh, seksualitas, keluarga, dan relasi personal pada konsep Stoler. Data yang dikumpulkan dan dianalisis berupa narasi atau dialog atau cuplikan, yakni cut scene tertentu yang merepresentasikan kondisi yang relevan dengan konsep gender yang ada di film tersebut maupun Buku Fotografi Bumi Manusia karya Yusuf Yudo. Studi ini menunjukkan bahwa tokoh Nyai Ontosoroh merupakan resistensi feminitas dalam menghadapi patriarki ganda yang terbatas oleh superioritas struktur kolonial, sementara tokoh Annelies Mellema merepresentasikan feminitas yang dikonstruksi secara subordinat dalam sistem hegemoni ganda yang resistensinya dibatasi dari sisi identitas gender-rasial sehingga otoritas tubuhnya menjadi sumber sengketa/konflik. Media massa yang digunakan dalam resistensi hanya mampu mendorong solidaritas publik namun tidak cukup kuat untuk melawan struktur kekuasaan negara yang sifatnya koersif.