Dinda Aulia
Universitas Negeri Surabaya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Trauma Perempuan pada Film A Normal Woman melalui Perspektif Teori Trauma Cathy Caruth Dinda Aulia; Anas Ahmadi
Journal of Linguistics and Social Studies Vol 3, No 1: 2026
Publisher : STAI Nurul Islam Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52620/jls.v3i1.291

Abstract

Penelitian ini membahas tentang representasi trauma perempuan dalam film A Normal Woman (2025) karya sutradara Lucky Kuswandi menggunakan teori trauma Cathy Caruth. Film yang mengisahkan tentangĀ  tokoh utama Milla, sosialita keluarga Gunawan terpandang yang mengalami ruam misterius dan halusinasi yang memicu ingatan traumatis masa kecilnya sebagai Grace seorang anak yang mengalami kecelakaan cermin dan kemudian wajahnya berubah melalui operasi plastik untuk memenuhi standar kecantikan sesuai yang diinginkan ibunya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis bentuk representasi trauma melalui tiga konsep utama Caruth The Unspeakable Event, Belatedness, dan The Voice of the Wound, serta menginterpretasikan makna "normal" bagi tokoh utama. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik analisis scene, pencatatan sistematis, dan interpretasi berdasarkan teori trauma Caruth. Hasil penelitian menunjukkan bahwa the unspeakable event termanifestasi melalui ketidakmampuan Milla mengungkapkan trauma secara verbal yang kemudian muncul sebagai ruam di leher simbol suara tidak terungkapkan dan halusinasi darah. Konsep belatedness terbukti melalui gap temporal 20 tahun antara kecelakaan masa kecil dan kemunculan gejala trauma di masa kini yang dipicu oleh tekanan standar kecantikan patriarkal. Adapun the voice of the wound terepresentasi melalui tindakan self-harm kompulsif Milla yang mencakar wajah dan lehernya sendiri sebagai cara tubuh berbicara ketika kata-kata gagal terucapkan. Trauma yang dialami akan muncul melalui rasa gatal ruam karena terdapat trigger tentang standar kecantikan, pengubahan identitas, dan penekanan lainnya. Penelitian ini mengungkap bahwa makna "normal" bagi Milla adalah paradoks yang menyakitkan: kehidupan sebagai identitas palsu yang sempurna sambil menekan trauma dan menyangkal diri sejati (Grace). Film ini mengkritik bagaimana konstruksi "normalitas" perempuan dalam struktur patriarki Indonesia menuntut pengorbanan identitas autentik demi memenuhi ekspektasi kecantikan dan kesempurnaan. Penelitian ini memberikan kontribusi sebagai studi pertama yang secara sistematis mengaplikasikan teori Caruth dalam menganalisis film Indonesia kontemporer, membuktikan bahwa medium sinematik memiliki kekuatan unik dalam merepresentasikan trauma yang "tidak dapat dikatakan" melalui bahasa visual dan naratif yang terfragmentasi.