Banjir pesisir di Kecamatan Medan Belawan semakin meningkat akibat kombinasi kenaikan muka laut, penurunan muka tanah, dan pengaruh debit sungai, sehingga menimbulkan gangguan sosial-ekonomi yang signifikan. Pendekatan adaptasi yang selama ini didominasi oleh kebijakan top-down sering kali belum sepenuhnya mengakomodasi kebutuhan masyarakat lokal. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi adaptasi banjir pesisir berbasis narasi lokal melalui pendekatan partisipatif bottom-up yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Penelitian dilaksanakan pada Juli 2025 di Kecamatan Medan Belawan dengan metode purposive sampling. Penyusunan strategi dilakukan melalui pengembangan skenario partisipatif menggunakan pertanyaan "Bagaimana-jika" yang dianalisis dalam kerangka Factors–Actions–Actors–Sectors (FAAS). Aktor yang terlibat terdiri atas Pemerintah Kota Medan, DPRD Kota Medan, Kecamatan Medan Belawan, Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera II, BMKG Medan Belawan, masyarakat, dan NGO Yagasu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi adaptasi yang disepakati mencakup kombinasi pendekatan struktural (grey solution) dan berbasis ekosistem (green solution). Strategi utama meliputi penguatan tanggul dan rumah pompa, normalisasi sungai dan pengelolaan muara, rehabilitasi mangrove, pengendalian pemanfaatan air tanah, peningkatan kualitas permukiman, relokasi sukarela pada zona berisiko tinggi, diversifikasi mata pencaharian, serta pengembangan sistem peringatan dini berbasis integrasi data pasang, debit sungai, dan informasi komunitas. Keberhasilan implementasi strategi tersebut bergantung pada kolaborasi lintas sektor dan penguatan tata kelola partisipatif. Pendekatan FAAS terbukti mampu menghasilkan rekomendasi adaptasi yang kontekstual, inklusif, dan relevan untuk meningkatkan ketahanan wilayah pesisir Medan Belawan hingga tahun 2050.