Online media in this digital age, has become the primary arena for constructing public figures images and shaping political legitimacy. The rapid growth of internet penetration in Indonesia has intensified competition among news portals, driving distinct editorial logics that produce divergent representations of the same figure. This research examines the construction of Purbaya Yudhi Sadewa’s “cowboy” communication style as a media darling figure through an analysis of news coverage on Detik.com and Liputan6.com from September to November 2025. Few studies have comparatively integrated framing theory and critical discourse analysis to examine how Indonesian online media construct the legitimacy of public officials, and this study addresses that gap. Using a qualitative approach, data were collected from twelve purposively selected news articles and analyzed through Robert N. Entman’s framing theory across four elements — define problem, diagnose causes, make moral judgments, and treatment recommendation — and Teun A. van Dijk’s critical discourse analysis across three structural levels: macrostructure, superstructure, and microstructure. Results reveal that Detik.com employs a conflict frame with personalization and dramatization that produces charisma-based legitimacy, while Liputan6.com applies a policy framework with a structuralist, evidence-based approach that generates legal-rational legitimacy. Theoretically, the study demonstrates that framing and critical discourse analysis operate as complementary rather than redundant instruments, yielding a three-tiered analytical architecture that links structural determinants, editorial logic, and textual mechanisms. Practically, it offers media literacy practitioners a diagnostic tool for identifying how political legitimacy is manufactured in digital news. ABSTRAK Media daring di era digital ini telah menjadi arena utama konstruksi citra figur publik dan pembentukan legitimasi politik. Pesatnya pertumbuhan penetrasi internet di Indonesia semakin memperketat persaingan antarportal berita, mendorong logika editorial yang berbeda-beda sehingga menghasilkan representasi yang beragam terhadap figur yang sama. Penelitian ini mengkaji konstruksi gaya komunikasi "koboi" Purbaya Yudhi Sadewa sebagai figur media darling melalui analisis pemberitaan pada Detik.com dan Liputan6.com periode September hingga November 2025. Masih terbatas studi yang mengintegrasikan teori framing dan analisis wacana kritis secara komparatif untuk mengkaji konstruksi legitimasi pejabat publik di media daring Indonesia, dan penelitian ini mengisi kesenjangan tersebut. Menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan dari dua belas artikel berita yang dipilih secara purposif dan dianalisis melalui teori framing Robert N. Entman dengan empat elemen — define problem, diagnose causes, make moral judgments, dan treatment recommendation — serta analisis wacana kritis Teun A. van Dijk pada tiga level struktural: makrostruktur, superstruktur, dan mikrostruktur. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Detik.com menggunakan bingkai konflik dengan personalisasi dan dramatisasi yang menghasilkan legitimasi berbasis kharisma, sementara Liputan6.com menerapkan kerangka kebijakan dengan pendekatan strukturalis berbasis bukti yang menghasilkan legitimasi legal-rasional. Secara teoretis, penelitian ini membuktikan bahwa analisis framing dan analisis wacana kritis berfungsi sebagai komplementer, bukan redundan, sehingga menghasilkan arsitektur analisis tiga lapis yang menghubungkan determinan struktural, logika editorial, dan mekanisme tekstual. Secara praktis, temuan ini menyediakan instrumen diagnostik bagi praktisi literasi media untuk mengidentifikasi cara legitimasi politik diproduksi dalam berita digital.