Muhammad Fazil
Malikussaleh University

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERANAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL ATASAN DIVISI PROCUREMENT TERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI KERJA KARYAWAN PT PERTA ARUN GAS Nazra Safaniera Afghiazka; Harinawati Harinawati; Kamaruddin Kamaruddin; Muhammad Fazil; Muchlis Muchlis
Jurnal Network Media Vol 9, No 2 (2026): NETWORK MEDIA
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/jnm.v9i2.8367

Abstract

Penelitian ini berjudul “Komunikasi Interpersonal Atasan Divisi Procurement PT Perta Arun Gas dalam Meningkatkan Motivasi Kerja Karyawan.” Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana bentuk komunikasi interpersonal yang diterapkan oleh atasan dalam meningkatkan motivasi kerja karyawan serta mengidentifikasi hambatan yang terjadi dalam proses komunikasi di Divisi Procurement PT Perta Arun Gas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas atasan dan karyawan Divisi Procurement. Penelitian ini menggunakan Teori Dua Faktor Herzberg (Motivasi–Higiene) sebagai landasan teoritis untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi motivasi kerja, baik intrinsik maupun ekstrinsik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal antara atasan dan karyawan di Divisi Procurement berjalan secara efektif, terbuka, dan bersifat dua arah. Bentuk komunikasi yang dilakukan, baik secara verbal maupun nonverbal, mampu menumbuhkan motivasi intrinsik karyawan berupa rasa tanggung jawab, kepuasan, dan kenyamanan dalam bekerja, serta motivasi ekstrinsik berupa penghargaan, perhatian, dan dukungan dari atasan. Komunikasi yang dibangun atas dasar empati, keterbukaan, dan kepercayaan juga menciptakan hubungan kerja yang harmonis dan produktif. Penelitian ini juga menemukan beberapa hambatan komunikasi, seperti gangguan teknis, perbedaan persepsi, dan tekanan psikologis akibat beban kerja. Meskipun demikian, hambatan tersebut dapat diminimalisir melalui komunikasi yang terbuka dan pendekatan personal dari atasan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa komunikasi interpersonal yang efektif dan berlandaskan empati berperan penting dalam meningkatkan motivasi kerja karyawan, sebagaimana dijelaskan dalam Teori Dua Faktor Herzberg. Komunikasi yang baik bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi sarana pembentukan semangat, kepuasan, dan loyalitas kerja.
STRATEGI KOMUNIKASI PT PERTAMINA HULU ENERGI NORTH SUMATERA OFFSHORE (PHE NSO) DALAM MENINGKATKAN KESADARAN KARYAWAN TERHADAP KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) Fadhilah Fadhilah; Muhammad Fazil; Harinawati Harinawati; Kamaruddin Kamaruddin; Masriadi Masriadi
Jurnal Network Media Vol 9, No 2 (2026): NETWORK MEDIA
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/jnm.v9i2.8382

Abstract

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek penting dalam industri minyak dan gas bumi yang memiliki tingkat risiko kerja tinggi. PT Pertamina Hulu Energi North Sumatera Offshore (PHE NSO) sebagai perusahaan yang bergerak di sektor hulu migas dituntut untuk menerapkan strategi komunikasi yang efektif guna meningkatkan kesadaran karyawan terhadap penerapan K3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi komunikasi yang diterapkan oleh PT PHE NSO serta mengidentifikasi hambatan-hambatan yang dihadapi dalam meningkatkan kesadaran K3 pada karyawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui observasi dan wawancara terhadap pihak HSSE dan pekerja lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT PHE NSO telah melaksanakan strategi komunikasi K3 melalui berbagai saluran, seperti safety briefing, media visual, dan keterlibatan aktif fungsi HSE. Namun, dalam pelaksanaannya masih ditemukan sejumlah hambatan, yaitu hambatan semantik akibat perbedaan pemahaman istilah teknis K3, hambatan psikologis yang berkaitan dengan kesadaran dan sikap karyawan, hambatan sosiologis akibat perbedaan latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja, serta hambatan mekanis terkait penggunaan media komunikasi. Hambatan-hambatan tersebut memengaruhi efektivitas penyampaian pesan K3, sehingga diperlukan penyesuaian strategi komunikasi agar kesadaran dan kepatuhan karyawan terhadap K3 dapat meningkat secara optimal.