Diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang kerap terjadi bersamaan. Penanganan kedua penyakit tersebut umumnya memerlukan lebih dari satu jenis obat secara bersamaan, sehingga meningkatkan risiko terjadinya interaksi obat yang dapat memengaruhi efektivitas dan keamanan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran potensi interaksi obat pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi di Puskesmas Antang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan observasional secara retrospektif menggunakan data rekam medis periode April-Juni 2025. Sampel diperoleh melalui teknik total sampling sebanyak 56 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Identifikasi interaksi obat dilakukan menggunakan Drugs.com dan Medscape. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang paling banyak ditemukan berjenis kelamin perempuan sebanyak 35 pasien (62,50%) dan kelompok usia terbanyak ditemukan pada rentang 56-65 tahun sebanyak 28 pasien (50,00%). Sebanyak 51 pasien (91,07%) teridentifikasi memiliki potensi interaksi obat. Tingkat keparahan terbanyak berada pada kategori moderat sebanyak 63 kasus (73,26%), diikuti mayor 22 kasus (25,58%), dan minor 1 kasus (1,16%). Mekanisme interaksi obat yang paling banyak ditemukan adalah farmakodinamik sebanyak 55 kasus (63,95%), diikuti farmakokinetik 23 kasus (26,74%), dan mekanisme yang belum diketahui 8 kasus (9,30%). Kombinasi obat yang paling banyak berpotensi menimbulkan interaksi adalah metformin dan amlodipin dengan tingkat keparahan moderat melalui mekanisme farmakodinamik sebanyak 48 kasus (55,81%), diikuti amlodipin dan simvastatin dengan tingkat keparahan mayor melalui mekanisme farmakokinetik sebanyak 22 kasus (25,58%). Kesimpulan penelitian ini, sebagian besar pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi di Puskesmas Antang memiliki potensi interaksi obat dengan tingkat keparahan moderat dan mekanisme farmakodinamik.