The decline of local cultural values among younger generations due to globalization necessitates the integration of local wisdom into formal education. Decentralized curriculum policies in Indonesia allow schools to develop place-based education rooted in local traditions. This study aims to describe the forms, Pasraman involvement, and implications of local wisdom-based learning at SD Negeri Argosari 01, a school in the Tengger community of Lumajang. A qualitative case study approach was employed, using interviews, observations, and documentation. Findings reveal that local wisdom values are manifested through the hidden curriculum, especially in Hindu Religious Education, and through the Pasraman extracurricular program, which teaches Javanese script, ethics, kidung, sloka, and offerings. Pasraman significantly supports the school in instilling cultural and spiritual values. The study concludes that local wisdom-based education effectively preserves Tengger heritage, and recommends stronger synergy between schools, traditional leaders, and local communities to sustain such programs. Menurunnya nilai-nilai budaya lokal di kalangan generasi muda akibat globalisasi menuntut integrasi kearifan lokal ke dalam pendidikan formal. Kebijakan desentralisasi kurikulum di Indonesia memungkinkan sekolah mengembangkan pendidikan berbasis potensi daerah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk pengejawantahan, keterlibatan Pasraman, dan implikasi pembelajaran berbasis kearifan lokal di SD Negeri Argosari 01, yang berada di komunitas Tengger Lumajang. Pendekatan kualitatif studi kasus digunakan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Temuan menunjukkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal diwujudkan melalui kurikulum tersembunyi, terutama pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu, serta kegiatan ekstrakurikuler Pasraman yang mengajarkan aksara Jawa, etika, kidung, sloka, dan jejahitan. Pasraman sangat membantu sekolah dalam menanamkan nilai spiritual dan budaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan berbasis kearifan lokal efektif melestarikan warisan Tengger, dan merekomendasikan penguatan sinergi antara sekolah, tokoh adat, dan masyarakat untuk keberlanjutan program.