Siti Nur Azizatul Luthfiyah
Institut Agama Islam Negeri Jember

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Konsep Tri Hita Karana Dalam Pandangan Masyarakat Hindu Tengger: The Concept of Tri Hita Karana in the Perspective of the Tengger Hindu Community Ismail Sholeh; Siti Nur Azizatul Luthfiyah
Fenomena Vol 17 No 1 (2018): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v17i1.285

Abstract

The Tengger Hindu community in Argosari Village faces the challenge of maintaining social harmony amid religious conversion and modernization pressures, yet they demonstrate strong social cohesion. This study aims to analyze the application of the Tri Hita Karana concept, which encompasses harmonious relationships with God, fellow humans, and nature, within the unique local context of Tengger. This research employs a qualitative approach with a case study design, collecting data through in-depth interviews with traditional leaders, shamans, and residents, as well as participatory observation. The main findings reveal that the Tengger Hindu community believes in God as Sang Hyang Widi Wasa, who encompasses everything, including the atman within every living being. In social relations, they firmly hold the principle of Tat Twan Asi ("I am you"), which fosters high tolerance, including interfaith marriages and joint celebrations with Muslims. Regarding nature, they have customary rules prohibiting land sales because the earth is considered ancestral heritage and a "mother" that must be preserved. In conclusion, Tri Hita Karana is not merely a Hindu teaching but a universal concept integrated with local customs and traditions, recommended as a model of harmony for other multicultural societies. Masyarakat Hindu Tengger di Desa Argosari menghadapi tantangan mempertahankan harmoni sosial di tengah perubahan keyakinan agama dan tekanan modernisasi, namun tetap menunjukkan kohesi sosial yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan konsep Tri Hita Karana yang meliputi hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam dalam konteks keunikan lokal Tengger. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, mengumpulkan data melalui wawancara mendalam terhadap tokoh adat, dukun, dan warga, serta observasi partisipatif di lapangan. Temuan utama menunjukkan bahwa masyarakat Hindu Tengger meyakini Tuhan sebagai Sang Hyang Widi Wasa yang meliputi segala sesuatu, termasuk atman dalam diri setiap makhluk. Dalam hubungan sosial, mereka memegang teguh prinsip Tat Twan Asi ("aku adalah kamu") yang melahirkan toleransi tinggi, termasuk terhadap pernikahan beda agama dan perayaan hari raya bersama umat Islam. Terkait alam, mereka memiliki aturan adat yang melarang penjualan tanah karena bumi dianggap sebagai warisan leluhur dan "ibu" yang harus dilestarikan. Kesimpulannya, Tri Hita Karana bukan sekadar ajaran Hindu tetapi konsep universal yang terintegrasi dengan adat dan tradisi lokal, sehingga direkomendasikan sebagai model kerukunan bagi masyarakat multikultural lainnya.