The phenomenon of social conflicts and violence among internal Muslim groups in Indonesia, such as the attacks in Sampang and Jember, reflects a critical issue where religious plurality is often met with exclusivism and claims of absolute truth. The grand theoretical framework of this study is rooted in the Islamic concept that pluralism (plurality) is sunnatullah (divine law), yet its empirical reality is frequently contradicted by rigid and fanatical interpretations. This article aims to examine how dialogue within Islamic teachings serves as an integrative medium to address religious divergence and achieve social harmony. To achieve this objective, the study employs a qualitative library research method, analyzing Qur'anic verses, hadith, and scholarly interpretations, particularly from Tafsir al-Misbah and works on inclusive Islam. The most important findings reveal that the Qur'an contains over 1,700 dialogical expressions and establishes clear ethics for dialogue, including sincerity, respectful listening, objectivity, and focusing on common platforms. The study concludes that dialogue is an effective and constructive tool for fostering social harmony, but its success is often hindered by exclusivist attitudes. It is recommended that Muslim communities actively develop egalitarian, creative, and constructive communication channels while adhering to Qur'anic ethical guidelines. Fenomena konflik sosial dan kekerasan antar kelompok internal Muslim di Indonesia, seperti kasus penyerangan di Sampang dan Jember, mencerminkan isu krusial dimana pluralitas seringkali dihadapi dengan sikap eksklusivisme dan klaim kebenaran mutlak. Peta besar teori dalam artikel ini berakar pada konsep Islam bahwa pluralitas adalah sunnatullah, namun realitas empirisnya kerap bertolak belakang karena penafsiran yang kaku dan fanatik. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana dialog dalam ajaran Islam dapat berfungsi sebagai media integratif untuk menyikapi perbedaan pemahaman keagamaan demi mewujudkan harmoni sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode studi pustaka kualitatif dengan menganalisis ayat-ayat Al-Qur'an, hadis, serta penafsiran ulama, terutama dari Tafsir al-Misbah dan karya tentang Islam inklusif. Temuan terpenting menunjukkan bahwa Al-Qur'an memuat lebih dari 1.700 ungkapan dialogis dan menetapkan etika dialog yang jelas, seperti niat tulus, mendengarkan dengan hormat, objektivitas, serta fokus pada titik persamaan. Kesimpulannya, dialog adalah sarana efektif dan konstruktif untuk kerukunan, namun sering terhambat oleh sikap eksklusivistik. Penelitian merekomendasikan agar komunitas Muslim mengembangkan komunikasi yang egaliter, kreatif, dan konstruktif dengan berpedoman pada etika Al-Qur'an.