M. Walid
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Upaya Nahdlatul Ulama (NU) Jember dalam Pemberdayaan Masyarakat melalui Jalur Pendidikan: The Efforts of Nahdlatul Ulama (NU) Jember in Community Empowerment through Education M. Walid
Fenomena Vol 4 No 2 (2005): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v4i2.372

Abstract

Large religious organisations such as NU are often criticised for being slow to empower communities despite having a strong mass base. This article examines NU Jember’s efforts to empower communities through formal and non-formal education. The study aims to describe empowerment strategies and the supporting and inhibiting factors. A qualitative-descriptive approach with phenomenological methods was employed, using observation, in-depth interviews, and documentary studies. Purposive sampling was applied, and data were analysed using a grounded theory model. The findings show that NU Jember conducts structural empowerment through organisational strengthening and cultural empowerment through socio-religious activities. Supporting factors include religious doctrines on the obligation to seek knowledge, low costs, and the dominance of kyai in society. Main obstacles are the dichotomy of knowledge, economic incapacity, patron-client culture, and low attention to educational quality. In conclusion, NU Jember has significantly contributed to empowerment, but curriculum reform and improved professional management of educational institutions are necessary. Fenomena organisasi keagamaan besar seperti NU sering dikritik lamban dalam pemberdayaan masyarakat, meskipun memiliki basis massa kuat. Artikel ini membahas upaya NU Jember dalam pemberdayaan masyarakat melalui jalur pendidikan, baik formal maupun nonformal. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi pemberdayaan serta faktor pendukung dan penghambatnya. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan metode fenomenologi, melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Sampel ditentukan secara purposive sampling, dan data dianalisis dengan model grounded research. Hasil penelitian menunjukkan bahwa NU Jember melakukan pemberdayaan struktural melalui penguatan organisasi, dan pemberdayaan kultural melalui kegiatan keagamaan sosial. Faktor pendukung meliputi doktrin agama tentang kewajiban menuntut ilmu, biaya murah, serta dominasi kiai di masyarakat. Hambatan utamanya adalah dikotomi ilmu, ketidakmampuan ekonomi masyarakat, kultur patron-klien, serta rendahnya perhatian terhadap mutu pendidikan. Kesimpulannya, NU Jember telah berkontribusi signifikan dalam pemberdayaan, namun diperlukan reformasi kurikulum dan peningkatan profesionalisme pengelolaan lembaga pendidikan.
Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di Madrasah Aliyah (MA) Al-Maarif Kencong Jember: Implementation of the Competency-Based Curriculum at Madrasah Aliyah (MA) Al-Maarif, Kencong, Jember M. Walid
Fenomena Vol 5 No 1 (2006): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v5i1.385

Abstract

The Indonesian government's effort to improve educational quality through the Competency-Based Curriculum (KBK) faces critical challenges in madrasah settings, particularly in balancing national standards with Islamic values. This study investigates KBK implementation at Madrasah Aliyah Al-Ma'arif Kencong Jember, focusing on how the curriculum is operationalized in a pesantren-based environment. Using a qualitative case study with a phenomenological approach, data were collected through participatory observation, in-depth interviews, and documentary analysis, with informants selected via purposive sampling. The findings show that KBK was piloted in 2004/2005 and fully implemented by 2005/2006, with 70% of teachers preparing learning plans. However, supporting factors, such as strong commitment from school leadership and community participation, contrast with significant obstacles, including limited learning resources, overcrowded classrooms (45-50 students per class), and inadequate physical facilities. The study concludes that while KBK implementation is unique and integrates national syllabi with Islamic and pesantren values, financial and infrastructural limitations hinder optimal outcomes. Recommendations include increasing government funding, reducing class sizes, and providing continuous teacher training. Upaya pemerintah Indonesia dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menghadapi tantangan krusial di lingkungan madrasah, terutama dalam menyeimbangkan standar nasional dengan nilai-nilai keislaman. Penelitian ini mengkaji implementasi KBK di Madrasah Aliyah Al-Ma'arif Kencong Jember, dengan fokus pada bagaimana kurikulum dioperasionalkan dalam lingkungan berbasis pesantren. Menggunakan metode kualitatif studi kasus dengan pendekatan fenomenologis, data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan analisis dokumenter, dengan informan dipilih secara purposive sampling. Temuan menunjukkan bahwa KBK dirintis pada 2004/2005 dan dilaksanakan total pada 2005/2006, dengan 70% guru telah menyiapkan rencana pembelajaran. Namun, faktor pendukung seperti komitmen kuat pimpinan sekolah dan partisipasi masyarakat kontras dengan hambatan signifikan, termasuk terbatasnya sumber belajar, ruang kelas yang padat (45-50 siswa per kelas), dan fasilitas fisik yang tidak memadai. Penelitian menyimpulkan bahwa meskipun implementasi KBK bersifat unik dan memadukan silabi nasional dengan nilai pesantren, keterbatasan finansial dan infrastruktur menghambat hasil optimal. Rekomendasi meliputi peningkatan bantuan pemerintah, pengurangan jumlah siswa per kelas, dan pelatihan guru berkelanjutan.
Kepemimpinan KH. Achmad Muzakki Syah, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qodiri Jember: The Leadership of KH. Achmad Muzakki Syah, Caretaker of Al-Qodiri Islamic Boarding School, Jember M. Walid
Fenomena Vol 6 No 2 (2007): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v6i2.416

Abstract

The rapid pace of globalization demands transforming leadership systems in Indonesian Islamic boarding schools (pesantren), shifting from hereditary models toward more adaptive and collective frameworks. This study examines the leadership style of KH. Ach. Muzakki Syah, the leader of Al-Qodiri Pesantren in Jember, and its influence and contributing factors. Using a qualitative phenomenological approach, data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, then analyzed using grounded research methods. The findings reveal that KH. Ach. Muzakki Syah employs a spiritual leadership model rooted in religious exemplarity, integrating charismatic and democratic elements while adopting autocratic leadership on principle-based issues such as santri obligations and pesantren ethics. His leadership significantly influences a broad spectrum of society, including farmers, traders, local officials, governors, ministers, and even the President of Indonesia. The growth of the pesantren from 9 students in 1976 to 4,000 in 2006, alongside the establishment of formal educational institutions and the widespread manaqib congregation network, demonstrates this influence. Key supporting factors include belief, istiqomah (consistency), sincerity, love, patience, and tangible spiritual outcomes. This study recommends that pesantren adopt shared leadership models to ensure sustainability and relevance in the modern era. Arus globalisasi yang cepat menuntut transformasi sistem kepemimpinan di pesantren Indonesia, dari model pewarisan herediter menuju pola yang lebih adaptif dan kolektif. Penelitian ini membahas tipe kepemimpinan KH. Ach. Muzakki Syah, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qodiri Jember, serta mengkaji pengaruh dan faktor-faktor yang memengaruhinya. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, lalu dianalisis dengan metode grounded research. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KH. Ach. Muzakki Syah menerapkan tipe kepemimpinan spiritual religius yang mengedepankan keteladanan, memadukan tipe kharismatik dan demokratis, serta menggunakan tipe otokratis untuk persoalan prinsip seperti kewajiban santri dan etika kepesantrenan. Kepemimpinannya berpengaruh luas, mencakup petani, pedagang, pejabat daerah, gubernur, menteri, hingga Presiden. Pertumbuhan pesantren dari 9 santri (1976) menjadi 4.000 santri (2006), serta berdirinya lembaga formal dan jaringan jamaah manaqib, menjadi bukti nyata pengaruh tersebut. Faktor pendukung meliputi keyakinan, istiqomah, keikhlasan, kesederhanaan, cinta, kesabaran, dan bukti nyata doa yang terkabul. Penelitian ini merekomendasikan penerapan kepemimpinan kolektif (shared leadership) di pesantren untuk menjamin keberlanjutan dan relevansi di era modern.
Dzikir Manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dalam Pemberdayaan Masyarakat di Ponpes. Al-Qodiri Jember: The Dhikr of Manaqib of Sheikh Abdul Qadir Al-Jailani in Community Empowerment at Al-Qodiri Islamic Boarding School, Jember M. Walid
Fenomena Vol 7 No 2 (2008): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v7i2.428

Abstract

In the modern era marked by spiritual crisis and psychological anxiety, Islamic mystical practices such as dhikr have emerged as a vital alternative for social rehabilitation. This study aims to analyze the empowerment of society through Dzikir Manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani at Al-Qodiri Islamic Boarding School, Jember, using a qualitative case study with a phenomenological approach. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentary techniques, then analyzed using grounded research and critical hermeneutics. The findings reveal that this dhikr practice empowers society in three multidimensional areas: worship, economy, and education. In worship, it fosters sincerity, repentance, and spiritual devotion. In the economy, it creates a marketplace for vendors and generates material blessings through collective prayer. In education, it instills values such as consistency, simplicity, ukhuwah Islamiah, and inner purification. The study concludes that Dzikir Manaqib serves as an effective instrument for community empowerment, offering a model of spirituality-based social development. Recommendations include integrating such practices into broader community development programs. Di era modern yang ditandai dengan krisis spiritual dan kecemasan psikologis, praktik keagamaan Islam seperti dzikir muncul sebagai alternatif penting bagi rehabilitasi sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemberdayaan masyarakat melalui Dzikir Manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani di Pondok Pesantren Al-Qodiri Jember, menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan metode fenomenologi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan teknik dokumenter, kemudian dianalisis dengan grounded research dan hermeneutika kritis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa praktik dzikir ini memberdayakan masyarakat dalam tiga bidang multidimensi: ibadah, ekonomi, dan pendidikan. Dalam ibadah, dzikir menumbuhkan keikhlasan, taubat, dan ketakwaan. Dalam ekonomi, aktivitas ini menciptakan pasar pedagang dan mendatangkan berkah material melalui doa bersama. Dalam pendidikan, dzikir menanamkan nilai-nilai seperti istiqomah, kesederhanaan, ukhuwah Islamiah, dan pembersihan hati. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Dzikir Manaqib merupakan instrumen efektif untuk pemberdayaan masyarakat berbasis spiritualitas. Rekomendasinya adalah mengintegrasikan praktik serupa ke dalam program pengembangan masyarakat yang lebih luas.