Dwi Puspitarini
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

An Analysis of the Use of Multiple Languages Among Sellers at Mangli Market, Jember, to Maintain Positive Transactional Interactions with Their Buyers in 2004 Dwi Puspitarini
Fenomena Vol 5 No 1 (2006): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v5i1.379

Abstract

Multilingualism in traditional markets creates communication challenges between sellers and buyers from different ethnic and social backgrounds. This study aims to describe language use, the influence of social status, and sellers' strategies for maintaining effective transactional interactions in Pasar Mangli, Jember. Using a descriptive-qualitative approach with purposive sampling, data were collected through observation, questionnaires, and interviews with 200 sellers. The findings reveal that three languages are used: Javanese, Madurese, and Indonesian. Social status significantly influences language choice, with large sellers tending to master all three languages and using code-switching as their main strategy, while small sellers have more limited proficiency. The most effective strategy is switching to the buyer's language. This study recommends integrating an understanding of code-switching into communication training for traders in multiethnic markets. Fenomena multilingualisme di pasar tradisional menciptakan tantangan komunikasi antara penjual dan pembeli yang berasal dari latar belakang etnis dan sosial berbeda. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan bahasa, pengaruh status sosial, dan strategi penjual dalam menjaga interaksi transaksional yang baik di Pasar Mangli, Jember. Menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan teknik purposive sampling, data dikumpulkan melalui observasi, kuesioner, dan wawancara terhadap 200 penjual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga bahasa yang digunakan: Bahasa Jawa, Bahasa Madura, dan Bahasa Indonesia. Status sosial sangat memengaruhi pilihan bahasa, di mana penjual besar cenderung menguasai ketiga bahasa dan menggunakan alih kode sebagai strategi utama, sementara penjual kecil lebih terbatas kemampuannya. Strategi yang paling efektif adalah beralih ke bahasa pembeli. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya pemahaman alih kode dalam pelatihan komunikasi bagi pedagang di pasar multietnis.
Language Assimilation among Chinese, Javanese, and Madurese in Jember: A Descriptive Analysis of Language in a Multicultural Community Dwi Puspitarini
Fenomena Vol 8 No 1 (2009): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v8i1.443

Abstract

The phenomenon of language assimilation in multicultural communities has become a crucial issue due to intensive interactions among ethnic groups with different linguistic and cultural backgrounds. This study employs a sociolinguistic framework to understand language use as an ethnic identity marker in social communication. The research aims to describe the languages used in social interactions among Chinese, Madurese, and Javanese ethnic groups at Pasar Tanjung Jember, and to analyze how these languages reflect ethnic identity and influence inter-ethnic intimacy. This descriptive qualitative research was conducted through observation, in-depth interviews, and field notes involving sellers and buyers on the first floor of Pasar Tanjung. The findings reveal four languages used: Javanese, Madurese, Indonesian, and Chinese (Mandarin), with varying usage depending on context and interlocutor. The Chinese ethnic group tends to use Indonesian in formal situations and Javanese ngoko in informal settings, while Chinese is reserved for intra-ethnic communication. It is concluded that language assimilation primarily occurs within the Chinese minority due to factors such as tolerance, economic necessity, and cultural sympathy, and further research on assimilation's impact on native language retention is recommended. Fenomena asimilasi bahasa dalam masyarakat multikultural menjadi isu krusial akibat interaksi intensif antar etnis yang berbeda latar belakang bahasa dan budaya. Penelitian ini menggunakan kerangka sosiolinguistik untuk memahami penggunaan bahasa sebagai penanda identitas etnis dalam komunikasi sosial. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan bahasa yang digunakan dalam interaksi sosial antara etnis Tionghoa, Madura, dan Jawa di Pasar Tanjung Jember, serta menganalisis bagaimana bahasa tersebut menunjukkan identitas etnis dan mempengaruhi keintiman hubungan antaretnis. Penelitian kualitatif deskriptif ini dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan pencatatan lapangan terhadap penjual dan pembeli di lantai satu Pasar Tanjung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat bahasa yang digunakan: Bahasa Jawa, Bahasa Madura, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Tionghoa (Mandarin), dengan tingkat penggunaan yang bervariasi tergantung situasi dan lawan tutur. Etnis Tionghoa cenderung menggunakan bahasa Indonesia dalam situasi formal dan bahasa Jawa ngoko dalam situasi informal, sementara Bahasa Tionghoa hanya digunakan sesama etnis Tionghoa. Disimpulkan bahwa asimilasi bahasa terjadi terutama pada kelompok minoritas Tionghoa karena faktor toleransi, ekonomi, dan simpati budaya, dan direkomendasikan adanya penelitian lebih lanjut tentang dampak asimilasi terhadap retensi bahasa ibu.