Muniron Muniron
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pandangan Al-Ghazali terhadap Ittihad dan Hulul: Al-Ghazali’s View on Ittihad and Hulul Muniron Muniron
Fenomena Vol 5 No 2 (2006): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/yv70hf45

Abstract

The debate over the mystical union between the Sufi and God, particularly the concepts of ittihad and hulul, has long been controversial in Islamic thought and has often been accused of contradicting monotheism. This study aims to examine and describe Al-Ghazali’s position on both doctrines within Sufism. Using a qualitative library research approach, data were collected from Al-Ghazali’s primary works, including Al-Munqidz min ad-Dlalal and Misykat al-Anwar, and analyzed using a hermeneutic method. The findings reveal that Al-Ghazali categorically rejects real (hakiki) ittihad and hulul as impossible, both rationally and theologically, because they violate the fundamental principle of tawhid by blurring the distinction between Creator and creature. However, he accepts and appreciates metaphorical (majazi) ittihad and hulul, considering them a higher form of tawhid, as exemplified by the utterances of Abu Yazid al-Bustami and Mansur al-Hallaj. The study concludes that Al-Ghazali’s seemingly ambiguous stance is resolved by distinguishing between literal and metaphorical union. It is recommended that future research explore the socio-political contexts influencing Sufi doctrinal formulations. Perdebatan tentang penyatuan mistis antara sufi dengan Tuhan, khususnya konsep ittihad dan hulul, telah lama menjadi isu kontroversial dalam pemikiran Islam dan sering dituduh bertentangan dengan monoteisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendeskripsikan pandangan Al-Ghazali terhadap kedua doktrin tersebut dalam tasawuf. Dengan menggunakan pendekatan penelitian kepustakaan kualitatif, data dikumpulkan dari karya-karya primer Al-Ghazali, seperti Al-Munqidz min ad-Dlalal dan Misykat al-Anwar, serta dianalisis dengan metode hermeneutika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Ghazali secara tegas menolak ittihad dan hulul hakiki sebagai hal yang mustahil secara rasional dan teologis, karena melanggar prinsip dasar tauhid dengan mengaburkan batasan antara Pencipta dan makhluk. Sebaliknya, ia menerima dan mengapresiasi ittihad dan hulul majazi sebagai bentuk tauhid yang lebih tinggi, sebagaimana dicontohkan oleh ungkapan Abu Yazid al-Bustami dan Mansur al-Hallaj. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ambiguitas tampak dalam pandangan Al-Ghazali terselesaikan dengan membedakan penyatuan literal dan metaforis. Disarankan agar penelitian selanjutnya mengeksplorasi konteks sosio-politik yang mempengaruhi formulasi doktrin sufi.
Posisi Islam Pesantren dalam Pluralisme Agama: Studi Kasus Pesantren Lirboyo Kediri: The Position of Islamic Boarding Schools in Religious Pluralism: A Case Study of Lirboyo Islamic Boarding School, Kediri Muniron Muniron
Fenomena Vol 6 No 2 (2007): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v6i2.407

Abstract

This research examines the position of Pesantren Islam in the context of religious pluralism, focusing on doctrinal and methodological potentials that may lead to intolerant or tolerant behavior. It is based on the classification of normative-doctrinal Islam and empirical-historical Islam. The aim is to describe and analyze the position of Pesantren Islam, both doctrinally and in its approach to study, in responding to religious pluralism. The research employs a qualitative approach with a case study design at Pesantren Lirboyo Kediri. Data were collected through interviews, observation, and document study, then analyzed using an induction-interpretation-conceptualization model. The results show that, doctrinally, discriminatory texts against non-Muslims are present, and, methodologically, the Islamic study approach is predominantly theological. However, because Islam is understood contextually and comprehensively, based on core Islamic values, these negative potentials are not actualized. Instead, the pesantren demonstrates tolerant and accommodative behavior toward followers of other religions. In conclusion, the position of Pesantren Islam Lirboyo supports a conducive atmosphere for religious pluralism in Kediri, and strengthening a contextual approach in the study of classical Islamic texts is recommended. Penelitian ini membahas posisi Islam pesantren dalam konteks pluralisme agama, dengan fokus pada potensi doktrinal dan metodologis yang dapat melahirkan perilaku intoleran atau toleran. Penelitian ini didasarkan pada kerangka klasifikasi Islam normatif-doktrinal dan Islam empiris-historis. Tujuannya adalah mendeskripsikan dan menganalisis posisi Islam pesantren, baik dari aspek doktrin maupun pendekatan studinya, dalam merespons realitas pluralisme agama. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus di Pesantren Lirboyo Kediri. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen, lalu dianalisis dengan model induksi-interpretasi-konseptualisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara doktrinal ditemukan teks-teks diskriminatif terhadap non-muslim, dan secara metodologis pendekatan studi Islam lebih bersifat teologis. Namun, karena Islam dipahami secara kontekstual dan komprehensif berdasarkan nilai-nilai dasar Islam, potensi negatif tersebut tidak teraktualisasi. Sebaliknya, pesantren menunjukkan perilaku toleran dan akomodatif terhadap pemeluk agama lain. Kesimpulannya, posisi Islam Pesantren Lirboyo mendukung terciptanya suasana kondusif bagi pluralisme agama di Kediri, dan direkomendasikan penguatan pendekatan kontekstual dalam studi kitab kuning.
Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum Model Universitas Islam Negeri (UIN) Malang: Integration of Religious and General Sciences: The Universitas Islam Negeri (UIN) Malang Model Muniron Muniron
Fenomena Vol 8 No 2 (2009): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v8i2.447

Abstract

The strict dichotomy between religious and general sciences has triggered an epistemological crisis and dehumanization in Islamic education. This article examines the integration model of religious and general sciences developed by the State Islamic University (UIN) Malang using the tree of knowledge as its main metaphor. This study aims to reveal the theological and philosophical foundations of the integration model. The research employed a qualitative case study approach, combining library research and field research through interviews and documentary studies. The findings show that the integration of sciences at UIN Malang is based on theological foundations including the universality of Islamic doctrine, the concept of caliphate, the mission of rahmatan lil ‘alamin, and the principle of tawhid, as well as philosophical foundations covering ontology, epistemology, and axiology within the framework of Islamic philosophy of science. In conclusion, the tree of knowledge metaphorically describes roots as instrumental sciences, trunk as Islamic sciences, branches as modern disciplines, and fruits as faith, righteous deeds, and noble character. It is recommended that this model be adapted by other Islamic higher education institutions to end the scientific dichotomy. Dikotomi ketat antara ilmu agama dan ilmu umum telah memicu krisis epistemologis dan dehumanisasi dalam pendidikan Islam. Artikel ini mengkaji model integrasi ilmu agama dan ilmu umum yang dikembangkan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Malang dengan menggunakan pohon ilmu sebagai metafora utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap landasan teologis dan filosofis dari model integrasi tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif model studi kasus, menggabungkan penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan melalui wawancara serta studi dokumenter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi ilmu di UIN Malang didasarkan pada landasan teologis berupa universalitas doktrin Islam, konsep khalifah, misi rahmatan lil ‘alamin, dan prinsip tauhid, serta landasan filosofis yang mencakup ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam kerangka filsafat ilmu Islam. Kesimpulannya, model pohon ilmu secara metaforis menggambarkan akar sebagai ilmu alat, batang sebagai keilmuan Islam, dahan sebagai disiplin modern, dan buah sebagai iman, amal saleh, serta akhlak karimah. Rekomendasinya, model ini dapat diadaptasi oleh perguruan tinggi Islam lain untuk mengakhiri dikotomi keilmuan.