Hepni Hepni
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Signifikansi Dakwah Multikultural Ulama Perempuan dalam Proses Pemberdayaan Masyarakat: Studi Kasus pada Aktivitas Dakwah Jam’iyah Muslimat NU Cabang Jember: The Significance of Multicultural Da'wah by Female Ulama in the Community Empowerment Process: A Case Study on the Da'wah Activities of the Jam’iyah Muslimat NU Jember Hepni Hepni
Fenomena Vol 7 No 1 (2008): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v7i1.425

Abstract

The increasing rates of moral decadence, ignorance, and poverty indicate that many preaching activities have not been effective in empowering communities. This study aims to describe the significance of multicultural preaching by female Muslim scholars within the community empowerment process, specifically identifying the configurations, themes, and methods developed by Muslimat NU Jember in 2007. Using a qualitative case study design, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation, then analyzed using interactive data analysis techniques. The findings reveal that the multicultural preaching configuration includes halaqah, intensive studies, public lectures, istighasah, counseling, training, workshops, and majlis taklim. The themes cover maslahah, humanity, amar ma'ruf nahi munkar, social justice, democracy, human rights, education, liberation, women's issues, and multiculturalism derived from the Qur'an and hadith. The methods combine bil lisan, bil qalam, and bil hal through andragogy, mentoring, and participatory learning. The study concludes that multicultural preaching by female scholars significantly contributes to empowering communities, particularly in alleviating ignorance and backwardness. It is recommended that all parties provide serious support for such preaching models and continue developing spiritual education to achieve genuine life success. Meningkatnya angka dekadensi moral, kebodohan, dan kemiskinan mengindikasikan bahwa banyak aktivitas dakwah belum berjalan efektif dalam memberdayakan masyarakat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan signifikansi dakwah multikultural ulama perempuan dalam proses pemberdayaan masyarakat, khususnya mengidentifikasi konfigurasi, materi, dan metode yang dikembangkan Muslimat NU Jember tahun 2007. Menggunakan desain penelitian kualitatif studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi, lalu dianalisis dengan teknik analisis data interaktif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konfigurasi dakwah multikultural meliputi halaqah, kajian intensif, pengajian umum, istighasah, penyuluhan, diklat, workshop, dan majelis taklim. Materi dakwah mencakup kemaslahatan, kemanusiaan, amar ma'ruf nahi munkar, keadilan sosial, demokrasi, HAM, pendidikan, pembebasan, tema kewanitaan, dan multikulturalisme yang bersumber dari Al-Qur'an dan hadits. Metode yang diterapkan adalah kolaborasi sinergis antara bil lisan, bil qalam, dan bil hal yang dikemas dalam metode andragogi, pendampingan, dan pembelajaran partisipatif. Penelitian menyimpulkan bahwa dakwah multikultural ulama perempuan berkontribusi signifikan dalam pemberdayaan masyarakat dari problem kebodohan dan keterbelakangan. Direkomendasikan kepada semua pihak untuk mendukung model dakwah ini dan terus mengembangkan pendidikan hati demi meraih kesuksesan hidup hakiki.
Maraknya Aliran Sesat di Era Reformasi dalam Perspektif Kyai Kampung: The Proliferation of Deviant Sects in the Reform Era: A Village Kyai’s Perspective Hepni Hepni
Fenomena Vol 8 No 2 (2009): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v8i2.452

Abstract

The reformasi era in Indonesia has witnessed an alarming rise of deviant religious sects, triggering public anxiety and potential anarchism, yet the perspectives of local village clerics (kyai kampung) who hold significant moral authority in paternalistic communities remain underexplored. This study aims to examine the criteria, causal factors, and coping strategies regarding deviant sects from the viewpoint of kyai kampung in Jember, East Java. Employing a qualitative approach with in-depth interviews and document analysis, the research gathered data from prominent kyai affiliated with four village cleric organizations. The findings reveal that kyai kampung classify deviant sects based on Qur'anic criteria including polytheism, defiance of Allah and His Messenger, denial of core articles of faith, and misinterpretation of religious texts. Internal causal factors include partial religious understanding, weak faith, and personal biases, while external factors comprise non-Islamic cultural influences, manipulated agendas of Islam's adversaries, and excessive democratic freedoms. The study concludes that alongside curative measures, preventive strategies through improving mainstream Islamic da'wah, strengthening community immunity with robust faith, and comprehensive religious education are essential. Recommendations emphasize coordinating multisectoral efforts and socializing kyai kampung's perspectives to prevent mob justice. Era reformasi di Indonesia menyaksikan maraknya aliran sesat keagamaan yang memicu keresahan masyarakat dan potensi anarkisme, namun perspektif kyai kampung yang memiliki otoritas moral signifikan dalam masyarakat paternalistik masih kurang terungkap. Penelitian ini bertujuan mengkaji kriteria, faktor penyebab, dan strategi penanggulangan aliran sesat menurut pandangan kyai kampung di Jember, Jawa Timur. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam dan analisis dokumen, penelitian mengumpulkan data dari kyai terkemuka yang tergabung dalam empat organisasi kyai kampung. Temuan menunjukkan bahwa kyai kampung mengklasifikasikan aliran sesat berdasarkan kriteria Qur'ani meliputi kemusyrikan, kedurhakaan kepada Allah dan Rasul, pengingkaran rukun iman, serta penafsiran keliru teks agama. Faktor penyebab internal mencakup pemahaman agama parsial, lemahnya iman, dan bias pribadi, sementara faktor eksternal meliputi pengaruh budaya non-Islam, rekayasa musuh Islam, dan kebebasan reformasi yang berlebihan. Penelitian menyimpulkan bahwa selain tindakan kuratif, strategi preventif melalui perbaikan dakwah Islam mainstream, penguatan antibodi masyarakat dengan keimanan kokoh, dan pendidikan agama komprehensif sangat diperlukan. Rekomendasi menekankan koordinasi multipihak dan sosialisasi perspektif kyai kampung untuk mencegah main hakim sendiri.