The increasing rates of moral decadence, ignorance, and poverty indicate that many preaching activities have not been effective in empowering communities. This study aims to describe the significance of multicultural preaching by female Muslim scholars within the community empowerment process, specifically identifying the configurations, themes, and methods developed by Muslimat NU Jember in 2007. Using a qualitative case study design, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation, then analyzed using interactive data analysis techniques. The findings reveal that the multicultural preaching configuration includes halaqah, intensive studies, public lectures, istighasah, counseling, training, workshops, and majlis taklim. The themes cover maslahah, humanity, amar ma'ruf nahi munkar, social justice, democracy, human rights, education, liberation, women's issues, and multiculturalism derived from the Qur'an and hadith. The methods combine bil lisan, bil qalam, and bil hal through andragogy, mentoring, and participatory learning. The study concludes that multicultural preaching by female scholars significantly contributes to empowering communities, particularly in alleviating ignorance and backwardness. It is recommended that all parties provide serious support for such preaching models and continue developing spiritual education to achieve genuine life success. Meningkatnya angka dekadensi moral, kebodohan, dan kemiskinan mengindikasikan bahwa banyak aktivitas dakwah belum berjalan efektif dalam memberdayakan masyarakat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan signifikansi dakwah multikultural ulama perempuan dalam proses pemberdayaan masyarakat, khususnya mengidentifikasi konfigurasi, materi, dan metode yang dikembangkan Muslimat NU Jember tahun 2007. Menggunakan desain penelitian kualitatif studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi, lalu dianalisis dengan teknik analisis data interaktif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konfigurasi dakwah multikultural meliputi halaqah, kajian intensif, pengajian umum, istighasah, penyuluhan, diklat, workshop, dan majelis taklim. Materi dakwah mencakup kemaslahatan, kemanusiaan, amar ma'ruf nahi munkar, keadilan sosial, demokrasi, HAM, pendidikan, pembebasan, tema kewanitaan, dan multikulturalisme yang bersumber dari Al-Qur'an dan hadits. Metode yang diterapkan adalah kolaborasi sinergis antara bil lisan, bil qalam, dan bil hal yang dikemas dalam metode andragogi, pendampingan, dan pembelajaran partisipatif. Penelitian menyimpulkan bahwa dakwah multikultural ulama perempuan berkontribusi signifikan dalam pemberdayaan masyarakat dari problem kebodohan dan keterbelakangan. Direkomendasikan kepada semua pihak untuk mendukung model dakwah ini dan terus mengembangkan pendidikan hati demi meraih kesuksesan hidup hakiki.