Hafidz Hasyim
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Kesadaran Intensionalitas dalam Fenomenologi Edmund Husserl: Suatu Studi Epistemologi dalam Upaya Perbandingan dengan Metode Ilmiah: Intentionality Awareness in Edmund Husserl’s Phenomenology: An Epistemological Study in Comparative Perspective with the Scientific Method Hafidz Hasyim
Fenomena Vol 8 No 1 (2009): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v8i1.438

Abstract

The crisis of Western epistemology, dominated by positivism and psychologism, has reduced consciousness to mere empirical facts and created a subject-object dichotomy that fails to grasp the essence of knowledge. This study critically examines Edmund Husserl’s phenomenology, particularly his concept of intentionality, as a foundational epistemological alternative. The research aims to describe and analyze the historical emergence of Husserl’s thought, the originality of his concept of intentionality, and its implications for reconstructing epistemological foundations. Using a qualitative library research method with historical, hermeneutical, and deductive-inductive approaches, this study systematically analyzes Husserl’s primary texts. The findings reveal that intentionality—consciousness always being conscious of something—serves as the basic structure of knowledge, enabling a return to the things themselves (zu den Sachen selbst) through phenomenological reduction (epoche). This method overcomes the limitations of both rationalism and empiricism by establishing an a priori relationship between subject and object. The study concludes that Husserl’s intentionality offers a new paradigm for epistemology, recovering the substance of historical experience and reconstructing the essence and structure of knowledge, while recommending further application of this method in contemporary social sciences. Krisis epistemologi Barat yang didominasi positivisme dan psikologisme telah mereduksi kesadaran menjadi fakta empiris semata serta menciptakan dikotomi subjek-objek yang gagal menangkap esensi pengetahuan. Penelitian ini mengkaji secara kritis fenomenologi Edmund Husserl, khususnya konsep intensionalitasnya, sebagai alternatif epistemologis yang fundamental. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis kemunculan historis pemikiran Husserl, orisinalitas intensionalitas, serta implikasinya bagi rekonstruksi fondasi epistemologi. Dengan metode penelitian kepustakaan kualitatif serta pendekatan historis, hermeneutik, dan deduktif-induktif, penelitian ini menganalisis secara sistematis teks-teks utama Husserl. Temuan penelitian menunjukkan bahwa intensionalitas—kesadaran selalu sadar akan sesuatu—merupakan struktur dasar pengetahuan yang memungkinkan kembalinya kepada hal itu sendiri (zu den Sachen selbst) melalui reduksi fenomenologis (epoche). Metode ini mengatasi keterbatasan rasionalisme dan empirisme dengan membangun relasi apriori antara subjek dan objek. Penelitian menyimpulkan bahwa intensionalitas Husserl menawarkan paradigma baru bagi epistemologi, memulihkan substansi pengalaman historis, serta merekonstruksi esensi dan struktur pengetahuan, dengan rekomendasi penerapan metode ini lebih lanjut dalam ilmu-ilmu sosial kontemporer. 
Muslim Moderat, Wacana Politik, dan Pertarungan Relasi Kuasa: Moderate Muslims, Political Discourse, and the Struggle for Power Relations Hafidz Hasyim
Fenomena Vol 9 No 1 (2010): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v9i1.466

Abstract

This research focuses on: (1) the ideas produced by moderate Muslims in Jember in relation to the ongoing “democratic celebration”; (2) the ideological tendencies in the discourse of moderate Muslims; and (3) the “local tricks” employed to transform political discourse to build civil society. This field research analyzes data obtained from field findings, supported by references such as books, journals, and other supporting materials. The study is qualitative in nature. Its aim is to uncover the meaning constructed by moderate Muslims through interpretation, hermeneutics, and discourse analysis based on observation, interviews, documentation, and textual study. Penelitian ini memfokuskan pada: (1) gagasan‑gagasan yang dihasilkan oleh Muslim moderat di Jember sehubungan dengan “perayaan demokrasi” yang sedang berlangsung; (2) kecenderungan ideologis dalam wacana Muslim moderat; dan (3) “trik lokal” yang digunakan untuk mentransformasi wacana politik demi membangun masyarakat sipil. Penelitian lapangan ini mengolah data hasil temuan lapangan yang didukung oleh referensi berupa buku, jurnal, dan data pendukung lainnya. Penelitian ini bersifat kualitatif. Tujuannya adalah menemukan makna yang dibangun oleh Muslim moderat melalui interpretasi, hermeneutika, dan analisis wacana berdasarkan observasi, wawancara, dokumentasi, serta studi teks.
Pluralisme Agama, Ulama Sufi, dan Pertarungan Wacana: Religious Pluralism, Sufi Scholars, and the Discourse Struggle Hafidz Hasyim
Fenomena Vol 11 No 2 (2012): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v11i2.519

Abstract

The Sufi perspective provides a clear lens to examine the discourse of religious pluralism. Sufi religious views encompass two aspects: the exoteric and the esoteric. The exoteric aspect of religion is the outward dimension, emphasizing sharia, forms, and religious symbols. Meanwhile, the esoteric aspect is the innermost dimension of every religion, focusing on inner, spiritual experiences to attain the ultimate reality, God. Sufi scholars in Jember emphasize inner experiences, as the purpose of religion is to reach God through such experiences, without neglecting sharia, which serves as the path to this goal. However, these Sufi scholars avoid debating sharia, as it pertains to methodology. Their rationale is that, fundamentally, all religions—regardless of form or type—aim to face the Divine. The error and deviation, according to Sufi scholars, lie in directing religion toward anything other than Allah. Perspektif Sufi mampu melihat secara jelas wacana pluralisme agama. Perspektif agama Sufi memandang dua aspek, yaitu aspek eksoterik dan esoterik. Aspek eksoterik agama adalah aspek lahiriah yang menekankan pada syariah, bentuk, dan simbol-simbol agama. Sementara aspek esoterik adalah aspek terdalam dalam setiap agama, yang menekankan pengalaman batin dan spiritual dalam mencapai realitas sejati, yaitu Tuhan. Ulama Sufi di Jember memberikan perhatian pada pengalaman batin, karena tujuan agama adalah mencapai Tuhan melalui pengalaman batin, namun tidak mengesampingkan syariah, sebab syariah adalah jalan untuk mencapai tujuan tersebut. Namun, ulama Sufi Jember tidak memperdebatkan wilayah syariah karena hal itu berkaitan dengan metode. Alasan pandangan ulama Sufi ini adalah bahwa pada dasarnya semua agama, terlepas dari bentuk dan jenisnya, bertujuan untuk menghadap Yang Ilahi. Kesalahan dan penyimpangan menurut ulama Sufi adalah ketika agama tidak ditujukan untuk selain Allah.
Klaim Kebenaran Agama: Studi Kasus atas Pembakaran Tempat Ibadah LDII di Desa Tanggul Wetan, Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember: Religious Truth Claims: A Case Study of the Burning of LDII Worship Place in Tanggul Wetan Village, Tanggul Subdistrict, Jember Regency Hafidz Hasyim
Fenomena Vol 12 No 1 (2013): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v12i1.530

Abstract

Today, the escalation of conflicts in the name of religion is growing, even though Indonesia is referenced by the international community as a multicultural and plural nation that has long been able to build a harmonious society with a relatively high level of tolerance. To achieve the realization of a harmonious society, many forums and dialogues have been conducted to minimize religious conflicts. The fundamental question remains: despite the dialogues and numerous forums, why can the issue of inter-religious conflicts not be stopped? This issue requires special thought, such as the approach to dialogue, whether the current model or method is no longer adequate, whether the discussed material is not quite right, and what paradigm can be used to build an adequate dialogue to resolve conflicts. A temporary assumption suggests that the cause of the conflict is the emergence of religious truth claims made by some Muslims, supported by certain religious institutions based on interpretations of normative texts, namely the Quran and Hadith. Saat ini, eskalasi konflik atas nama agama semakin meningkat, padahal Indonesia dikenal oleh masyarakat internasional sebagai negara yang multikultural dan plural, serta telah lama mampu membangun masyarakat yang harmonis dengan tingkat toleransi yang cukup tinggi. Untuk mewujudkan masyarakat yang harmonis, banyak forum dan dialog telah dilakukan untuk meminimalisir konflik agama. Namun, pertanyaan mendasar adalah mengapa meskipun dialog telah dilakukan dan banyak forum telah dibentuk, isu konflik antar agama masih belum bisa dihentikan. Persoalan ini memerlukan pemikiran khusus, seperti pendekatan dialog yang digunakan, apakah model atau metode dialog yang ada sudah tidak memadai, ataukah materi yang dibahas kurang tepat, serta paradigma apa yang dapat digunakan untuk membangun dialog yang memadai guna menyelesaikan konflik. Asumsi sementara menunjukkan bahwa penyebab konflik adalah munculnya klaim kebenaran agama (truth claims) yang dilakukan oleh sebagian umat Islam, didukung oleh lembaga keagamaan tertentu berdasarkan penafsiran terhadap teks normatif, yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadits.