Nadien Istihawa
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Representasi Perempuan dan Makna Normalitas dalam Poster Film A Normal Woman: Analisis Semiotika dan Feminisme Adelya Razak; Nadien Istihawa
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 4: Juni 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/j-ceki.v5i4.17152

Abstract

Representasi perempuan dalam poster film A Normal Woman merefleksikan konstruksi sosial mengenai konsep “perempuan normal” dalam kehidupan kontemporer yang dibentuk melalui relasi budaya dan media visual. Poster film sebagai komunikasi visual tidak hanya berfungsi sebagai medium promosi, tetapi juga sebagai representasi simbolik yang memuat tanda serta makna ideologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi perempuan dalam poster film tersebut melalui pendekatan semiotika yang dikemukakan oleh Roland Barthes. Analisis difokuskan pada identifikasi tiga tingkatan makna, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos, untuk mengungkap pesan ideologis yang terkandung dalam elemen visual poster. Selain itu, penelitian ini juga didukung oleh perspektif feminisme, khususnya konsep male gaze yang diperkenalkan oleh Laura Mulvey. Hasil analisis menunjukkan bahwa karakter Mila direpresentasikan sebagai perempuan yang berada dalam tekanan standar normalitas sosial yang dibentuk oleh masyarakat. Pada tingkat denotasi, visual menampilkan ekspresi wajah Mila yang terkejut dengan kondisi wajah yang tidak sempurna, sementara pada tingkat konotasi, elemen seperti cermin, fragmentasi wajah, serta tipografi yang tampak terdistorsi merepresentasikan refleksi diri, kecemasan psikologis, serta ketidakstabilan identitas yang terbentuk melalui ekspektasi sosial. Pada tingkat mitos, representasi tersebut mengungkap ideologi mengenai konsep “perempuan normal” yang dikonstruksi melalui norma sosial yang mengatur penampilan dan perilaku perempuan. Temuan ini menunjukkan bahwa media visual tidak hanya mereproduksi konstruksi normalitas perempuan, tetapi juga dapat menjadi ruang kritik terhadap standar sosial yang membentuk identitas dan posisi perempuan dalam masyarakat.