Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Komunikasi Digital Kampanye Filantropi Berbasis Pesan Religius Dan Kemanusiaan Rayhan Ahmad Zaki; Adi Nugroho; Naufal Rizqi Permana
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 10, No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v10i2.2026.1212-1223

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi strategi komunikasi digital dalam kampanye sosial yang menggunakan pesan keagamaan dan kemanusiaan. Dalam perkembangan yang cepat terhadap media digital sebagai ruang publik baru. Organisasi filantropi mengatasi tantangan pengelolaan narasi yang dapat meningkatkan kepercayaan dan tindakan nyata masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, penelitian ini menganalisis model implementasi The Dragonfly Effect yang terdiri dari empat pilar, yaitu: Focus, Grab Attention, terlibat, dan Take Action pada kampanye filantropi digital Lazismu Jawa Tengah. Dalam penelitian ini, landasan teoritis yang digunakan adalah Teori Identitas Sosial untuk memahami bagaimana pesan diaktivasi melalui audiens sosial sebagai bagian dari komunitas keagamaan ataupun sebagai bagian dari masyarakat global. Dalam hasil analisis menunjukkan bahwasanya pesan keagamaan memiliki efek menarik dan juga meningkatkan perhatian melalui aktivasi kewajiban moral dan sebagai identitas spiritual. Sementara itu, pesan kesejahteraan unggul dalam membangun empati universal yang melampaui batas primordial. Dalam temuan studi kasus ini juga terlihat bahwasanya integrasi kedua narasi tersebut dalam kerangka The Dragonfly Effect mampu menciptakan siklus kampanye yang sistematis, sehingga dapat mengubah keterlibatan audiens di ruang digital menjadi tindakan nyata seperti donasi digital. Penelitian ini memberikan kesimpulan bahwasanya sinergi antara fokus tujuan dan resonansi identitas sosial menjadi kunci keberhasilan mobilisasi partisipasi publik dalam ekosistem kedermawanan digital, khususnya konteks organisasi filantropi berbasis agama di Indonesia.
Komunikasi Dalam Ritual Dan Budaya Pada Upacara Rambu Tuka’ Syukuran Tongkonan Oleh Masyarakat Toraja Inveren Three Bethris Yan Allolinggi; Adi Nugroho; Rayhan Ahmad Zaki
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 10, No 3 (2026): Agustus 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v10i3.2026.2083-2089

Abstract

Rambu Tuka’ dalam acara syukuran rumah adat Tongkonan merupakan bentuk komunikasi budaya yang sangat penting bagi masyarakat Toraja untuk menegaskan jati diri dan memperkuat kebersamaan sosial. Namun, di tengah perkembangan zaman dan perubahan cara berpikir generasi muda, pemahaman terhadap symbol-simbol dalam ritual ini mulai mengalami penurunan makna. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana pola komunikasi dalam upacara Rambu Tuka’ berlangsung serta bagaimana ritual tersebut membentuk dan mempertahankan identitas budaya masyarakat di era modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi komunikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi dalam ritual Rambu Tuka’ berfungsi sebagai sistem symbol yang menyampaikan nilai rasa syukur, asal-usul keluarga, dan pengakuan status sosial. Meskipun dikalangan generasi muda terjadi pergeseran makna dari pemahaman yang mendalam ke arah yang lebih melihat sisi penempilan atau estetika, akibat keterbatasan pemahaman bahasa dan pengaruh teknologi digital, ritual ini tetap berperan penting dalam menanamkan identitas budaya. Temuan penelitian ini juga memperlihatkan adanya usaha dari generasi tua untuk menyesuaikan cara penyampaian makna ritual, sementara generasi muda melakukan adaptasi melalui media digital sebagai bentuk upaya mempertahankan budaya. Kesimpulannya, bahwa Rambu Tuka’ bukan hanya sekadar tradisi perayaan, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat Toraja untuk merundingkan dan menjaga identitas mereka, dengan menghubungkan nilai-nilai masa lalu dengan kehidupan modern saat ini.