Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Kombinasi Sampah Plastik (PET & LDPE) Menjadi BBM Alternatif Melalui Metode Pirolisis dengan Variasi Suhu Sebagai Upaya Circular Economy Aquila Nuh Islami; Mohamad Mirwan; Sri Redjeki; Nurvita Cundaningsih
Jurnal Serambi Engineering Vol. 11 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan sampah plastic di Kota Surabaya menghadapi tantangan besar dengan timbulan sampah yang diproyeksikan mencapai 660 ribu ton pada tahun 2025, di mana 16,51% di antaranya merupakan sampah plastik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan produk pirolisis dari kombinasi sampah plastik Polyethylene Terephthalate (PET) dan Low Density Polyethylene (LDPE) menggunakan katalis zeolit alam seberat 10 gram sebagai upaya mendukung circular economy. Proses pirolisis dijalankan selama 60 menit dengan variasi suhu operasi 400℃ dan 600℃ serta berbagai variasi fraksi komposisi campuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen minyak tertinggi diperoleh pada perlakuan TA4 (PET 0% : LDPE 100% pada suhu 400℃) yaitu sebesar 91,5%, sedangkan rendemen terendah diperoleh pada perlakuan TG6 (PET 100% : LDPE 0% pada suhu 600℃) sebesar 6,7%. Kenaikan suhu hingga 600℃ memicu terjadinya secondary cracking yang mengubah fraksi cairan menjadi gas non-kondensabel sehingga menurunkan rendemen minyak. Minyak pirolisis yang dihasilkan memiliki karakteristik fisik dengan nilai densitas berkisar antara 0,745 – 0,922 g/mL (rata-rata 0,815 g/mL), nilai viskositas berkisar antara 1,10 – 4,20 cP (rata-rata 2 cP), dan nilai kalor berkisar antara 26,50 – 44,80 MJ/kg (rata-rata 35,90 MJ/kg). Karakteristik fisik produk ini secara umum telah mendekati standar baku mutu bahan bakar komersial cair. Berdasarkan Cost Benefit Analysis (CBA) skala laboratorium, diperoleh nilai Net Benefit negative sebesar -Rp 12.825 karena keterbatasan kapasitas reaktor (100 gram). Walaupun demikian, teknologi ini memiliki potensi keberlanjutan yang besar apabila dilakukan peningkatan skala (upscaling) produksi.