ABSTRACT Introduction: Traffic congestion in the Kopo area is an urban structural problem that has become a collective social experience among Bandung residents. However, previous studies generally separate transportation, social media, and digital satire perspectives, leaving the transformation of urban criticism into symbolic criticism in digital spaces insufficiently explained. Objective: This study analyzes the representation of Kopo traffic congestion through satirical narratives on Instagram and explains the emergence of digital criticism in user interactions. Method: A qualitative approach using Qualitative Content Analysis (QCA) examined the Instagram account @avin.anggara_. Visual content, captions, and comments from five posts with relatively high engangement were collected through digital observation and documentation. Data were analyzed using NVivo 15 based on Stuart Hall's representation theory and Mikhail Bakhtin's satire theory. Results: The findings conclude that congestion is represented through impact, physical, and myth dimensions and transformed into satirical narratives of irony, humor, and hyperbole, fostering digital criticism and collective social awareness. Conclusion: The representation of Kopo’s traffic jam through digital satire shows that social media not only reproduces people’s experiences of urban issues, but also transformas them into symbolic critiques that strengthen collective social consciousness and public reflection spaces. ABSTRAK Pendahuluan: Kemacetan lalu lintas di kawasan Kopo merupakan persoalan struktural perkotaan yang berkembang menjadi pengalaman sosial kolektif masyarakat Bandung. Namun, penelitian terdahulu umumnya memisahkan perspektif transportasi, media sosial, dan satire digital sehingga transformasi kritik terhadap persoalan urban menjadi kritik simbolik dalam ruang digital belum dijelaskan secara memadai. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi kemacetan Kopo melalui narasi satire di Instagram dan menjelaskan kemunculan kritik digital dalam interaksi pengguna. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Qualitative Content Analysis (QCA) pada akun Instagram @avin.anggara_. Data berupa konten visual, caption, dan komentar dari lima unggahan dengan tingkat engangement relatif tinggi dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi digital. Analisis dilakukan menggunakan NVivo 15 dengan landasan teori representasi Stuart Hall dan teori satire Mikhail Bakhtin. Hasil penelitian: penelitian ini menemukan bahwa kemacetan direpresentasikan melalui dimensi dampak, fisik, dan mitos yang ditransformasikan menjadi narasi satire berbasis ironi, humor, dan hiperbola sehingga memicu kritik digital dan kesadaran sosial kolektif. Kesimpulan: Representasi kemacetan Kopo melalui satire digital menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya mereproduksi pengalaman masyarakat terhadap persoalan perkotaan, tetapi juga mentransformasikannya menjadi kritik simbolik yang memperkuat kesadaran sosial kolektif dan ruang refleksi publik.