Nurcholis Dwi Putra
Program Studi Ilmu Administrasi Publik, Universitas Pasundan Bandung, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

DINAMIKA “NEW PUBLIC SERVICE” SEIRING PERGESERAN “CITIZEN TO NETIZEN” DI BIDANG PELAYANAN KESEHATAN KABUPATEN GARUT (STUDI PREVALENSI STUNTING) Thomas Bustomi; Cut Afni Tasya; Nurcholis Dwi Putra; Elizabeth M. Ginting
Kebijakan : Jurnal Ilmu Administrasi Vol. 17 No. 02 (2026): Volume 17 No. 02 Juni 2026
Publisher : Program Magister Ilmu Administrasi dan Kebijakan Publik, Pascasarjana, Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/kebijakan.v17i02.32423

Abstract

pada tahun 2022, yang menempatkan Garut sebagai Kabupaten tertinggi angka prevalensi stunting di Jawa Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mengkaji upaya penurunan angka prevalensi stunting di Kabupaten Garut, (2) mengetahui faktor-faktor apa saja yang menghambat upaya percepatan penurunan angka prevalensi stunting, dan (3) Membangun model pendekatan whole of government dalam upaya percepatan penurunan angka prevalensi stunting di Kabupaten Garut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, focus group discussion, dengan informan kunci adalah orang-orang yang tergabung dalam TPPS tingkat Kelurahan, serta studi dokumentasi pada dokumen laporan kegiatan dan program yang berkaitan dengan stunting. Analisis data dilakukan dengan mengelompokkan dan menyiapkan data, mempelajari data, melakukan koding, mendeskripsikan proses koding, menghubungkan tema-tema dan menginterpretasikan makna dari setiap tema. Penelitian menunjukkan bahwa upaya penurunan angka prevalensi stunting di Kelurahan Kotawetan dan Sukamantri Kabupaten Garut telah dilakukan dengan dibentuknya satgas stunting melalui Tim Percepatan Penurunan Stunting tingkat Kelurahan. Melalui pendekatan whole of government dengan nilai-nilai dasar koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan simplifikasi, upaya penurunan prevalensi stunting dinilai belum optimal. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menghambat upaya penurunan stunting, yaitu akses layanan kesehatan, keterbatasan anggaran, sarana prasarana, dan sumber daya manusia, masih adanya konflik kepentingan, masalah komunikasi dan koordinasi, dan faktor partisipasi masyarakat. Faktor lainnya yang menjadi penyebab tidak langsung terjadinya stunting adalah faktor sosio-ekonomi, faktor pendidikan orang tua, faktor sanitasi dan kebersihan lingkungan serta pola asuh dan kebiasaan masyarakat. Selanjutnya, dalam pembangunan model diketahui peran penting kepemimpinan khususnya dari tokoh masyarakat, komunikasi dan komitmen dalam memperkuat koordinasi sebagai bingkai utama yang di dalamnya berjalan aspek integrasi, sinkronisasi, dan simplifikasi untuk membangun kepercayaan antar anggota, yang bermuara pada terciptanya budaya organisasi positif untuk mencapai penurunan angka prevalensi stunting. Model ini dapat diimplementasikan sebagai salah satu pendekatan untuk mempercepat penurunan angka prevalensi stunting di Kabupaten Garut.